Thursday, April 22, 2010

PEREMPUAN BERBAKAT

PEREMPUAN BERBAKAT
Dalam budaya Jawa


            In early childhood and through the elementary school years, gifted boys and girls are equal in number. In adolescence, however, a marked turnaround occurs. By adulthood there are far more gifted men than gifted women. What happens to those young gifted girls and women? They don’t just disappear; many gifted adolescents don’t capitalize on their giftedness. Their academic achievement and other talents falter, and their gifts may become obscured on the way to womanhood. Research suggests that several factors converge to produce barriers to the achievements of gifted girls, causing the declining numbers of identifiable gifted girls as they grow up. Social and cultural environment have a great influence on one’s giftedness; community members will reinforce expected behaviors and punish those considered improper. This inflicts greater burden for gifted
adolescents and women in the Javanese community. In Javanese households is also found in a wider society in which greater opportunities and facilities are prioritized for boys rather than for girls. Many of conditions that make gifted women of Javanese vulnerable to pressures to underachieve as college students and adults begin to take effect in early childhood.
Key words: women gifted and Javanese culture
Individu berbakat atau ‘gifted’ adalah aset negara, yang perlu mendapat perhatian hingga mereka diharapkan mampu menghasilkan karya-karya yang gemilang. Individu seperti kita ketahui ia mempunyai potensi yang sangat tinggi, yakni mempunyai inteligensi yang tinggi, disertai dengan kemampuan kreativitas yang tinggi pula. Potensi ini akan berkembang atau tidak, menurut teori multifaktor yang dikembangkan oleh F.J. Monks (2000) perlu adanya dukungan dari lingkungan sosialnya, antara lain lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Seseorang yang mendapat dukungan positif dari lingkungannya akan lebih mempunyai kesempatan yang besar untuk mengaktualkan kemampuan yang dimilikinya, sebaliknya bila seseorang tidak mendapatkan kesempatan, atau bahkan mendapat hambatan dari lingkungannya maka potensi yang sangat tinggi itu menjadi ‘bersembunyi” dan selamanya tetap tidak pernah terwujudkan.
Jumlah perempuan dan laki-laki berbakat sesungguhnya adalah seimbang (Silverman, 1993), tapi kita lihat kenyataannya jumlah orang yang berprestasi, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, bahkan di dalam bidang seni, didominasi oleh kaum laki-laki jumlah kaum perempuannya masih sangat terbatas. Kita lihat di dalam kabinet, maupun



1
parlemen jumlah kaum perempuan masih amat sedikit. Kemanakah perempuan berbakat tersebut sekarang?. Ada ahli yang mengatakan bahwa jumlah anak perempuan berbakat banyak, tetapi jumlah perempuan dewasa berbakat sangat langka. Hal ini tidak bisa kita abaikan adanya faktor budaya. Sinyal-sinyal perlakuan yang bertujuan untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat sesungguhnya telah ada, yang kemudian meresap sejak mereka kanak-kanak, bahwa ia laki-laki maka ia harus begini dan karena ia perempuan ia harus begitu. Perbedaan perlakuan berdasarkan gender ini menjadi norma sejak anak-anak sangat muda, yang selanjutnya menjadi lebih kuat dan nyata di dalam kehidupan sosial, setelah mereka menjelang remaja dan dewasa.
Di bawah ini akan diulas perempuan berbakat (gifted girls/women) yang tinggal di lingkungan yang bersuasana budaya Jawa, salah satu budaya di Indonesia yang cukup kuat mewarnai kebudayaan Indonesia.
Perkembangan Perempuan Berbakat
Kemampuan berpikir antara laki-laki dan perempuan sesungguhnya tidak ada perbedaan. Kalau dilihat dari skor Inteligensi mereka tidak ada perbedaan yang penting, walaupun memang terdapat perbedaan yang subtansial pada beberapa kemampuan yang spesifik, berbakat laki-laki secara tipikal mempunyai skor yang tinggi pada kemampuan spasial-visual dan matematik (mulai sekolah menengah), sedang remaja perempuan berbakat skor unggul pada skor pengukuran verbal (Weyther, 1997).
Dari studi yang dilakukan Callahan dan Reis (1996) dilaporkan bahwa pada masa kanak-kanak awal hingga masuk sekolah-sekolah dasar, siswa laki-laki berbakat dan perempuan berbakat memiliki jumlah yang relatif sama. Pada masa remaja terjadi penurunan, pada sekitar usia dua belas tahun siswa laki-laki berbakat berjumlah lebih banyak dari siswa perempuan berbakat, dan pada masa dewasa perbandingan jumlah antara laki-laki dan perempuan menjadi sangat berbeda, laki-laki berbakat menjadi sangat menonjol dibandingkan perempuan. Mengapa terjadi penurunan jumlah siswa perempuan berbakat ? Ternyata banyak faktor yang merupakan penghambat bagi siswa perempuan berbakat
2
untuk mencapai prestasi, apalagi bagi perempuan dewasa jumlah mereka semakin sedikit, karena tidak dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan bakat yang dimilikinya.
Penelitian yang hampir sama juga dilakukan oleh Mokros ( dalam Horrocks, 1976) ditemukan hasil bahwa siswa perempuan kelas satu dan dua di sekolah menengah mempersepsikan prestasi intelektual yang dimilikinya lebih positif daripada siswa pria seusia mereka. Tetapi menjelang masa remaja akhir siswa laki-laki memandang bahwa prestasi intelektualnya secara lebih positif dibanding siswa perempuan, sedang pada siswa perempuan justru terjadi sebaliknya. Stereotip tradisional tentang perempuan kadang-kadang membuat perempuan berpura-pura bodoh untuk menarik lawan jenisnya. Siswa remaja perempuan berbakat beresiko untuk mengalami lebih banyak konflik daripada remaja siswa laki-laki dalam mengembangkan keberbakatannya, terutama dalam menentukan pilihan karier. Entswissle dan Berger (Freeman 1985) menemukan dari penelitiannya di Universitas John Hopkins bahwa pada mahasiswa perempuan berbakat meskipun telah merencanakan karier yang tinggi, namun mereka masih memiliki konflik antara sasaran karier mereka dan kehidupan berumah tangga.
Stereotip tradisional remaja perempuan berbakat dituntut tidak terlalu pintar, sebaliknya pria adalah mahluk yang superior, membuat perempuan menjadi warga negara kelas dua, pria tidak suka dirinya disaingi terutama oleh istrinya. Stereotip tersebut membuat remaja perempuan berbakat menekan keberbakatannya, supaya ia lebih menarik di mata teman lawan jenisnya, perempuan dengan rasa ingin tahu yang besar, motivasi yang tinggi, serta prestasi akademik yang tinggi kurang menarik bagi lingkungannya, terutama lawan jenisnya (Silverman, 1993).
Doening (Horrocks, 1976) mengatakan bahwa rupanya ada sindrom Cinderella yang dijadikan eufimisme bagi streotip feminin pada perempuan yang digambarkan dengan sifat ketergantungan diri, sikap menunggu, paras cantik, dan tidak terlalu pandai. Streotip ini rupanya berpengaruh terhadap pengembangan keberbakatan seorang perempuan berbakat. Seorang perempuan berbakat merasa ia harus memiliki sifat-sifat seperti di atas, sehingga ia sengaja membatasi dirinya agar tidak terlalu aktif, mempunyai sifat
3
tergantung, dan tidak terlalu pandai, akibatnya potensi keberbakatannya tidak bisa teraktualisasi dengan optimal.
Perkembangan Psikologis Pada Perempuan Berbakat
Bagaimanakah dampak perkembangan psikologis karena keadaan ini pada siswa perempuan berbakat?. Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Klein (1996) menunjukkan bahwa terjadi penurunan self-esteem (harga diri) yang cukup menonjol selama sekolah. Sejak siswa berbakat perempuan memasuki kelas 3 hingga kelas 8 kebanyakan terjadi menurunan kepercayaan diri yang cukup signifikan. Siswa berbakat perempuan melaporkan bahwa lebih merasa dirinya tidak memiliki kemampuan dibandingkan dengan siswa berbakat yang berkemampuan rata-rata. Beberapa penulis mengatakan bahwa terjadinya perubahan-perubahan psikologis pada siswa perempuan berbakat ini sebagai akibat dari adanya konflik pada perempuan berbakat antara kebutuhan psikologis dengan pengharapan masyarakat terhadap peran gender, perempuan belajar dari keluarganya, sekolah, dan media massa mengenai perilaku yang dapat diterima kelompok (keluarga, sekolah, dan masyarakat), dan perempuan berbakat juga mempelajari hal-hal yang ditolak kelompoknya, dan ia berusaha untuk menghindarinya. (Klein, 1996; Leroux, 1992).
Seperti remaja pada umumnya, yaitu pada saat menjelang remaja ia mulai mempunyai kebutuhan (needs) akan mencintai dan dicintai oleh lawan jenis, selain kebutuhan ini pada siswa perempuan berbakat sebenarnya bersamaan dengan kebutuhan akan berprestasi (selayaknya siswa berbakat). Namun pada kenyataannya kebutuhan untuk dicintai dan mencintai lebih diutamakan, mereka cenderung mengalahkan kebutuhan untuk berprestasi dan otonomi diri (Kerr, 2000). Tidak sedikit tekanan dari teman sebaya agar ia tidak terlalu pandai, agar bisa diterima oleh teman-temannya. Jadi keseimbangan antara kebutuhan akan prestasi dan persahabatan dapat merupakan tugas berat dan sensitif bagi siswa perempuan berbakat (Leroux, 1992). Beberapa perempuan berbakat percaya bahwa kompetisi di bidang akademik harus dihindari demi menjaga persahabatan dengan teman-temannya, dan ini berarti bahwa mereka harus ‘menyembunyikan’ talentanya.
4
Menjelang remaja dan dewasa, perempuan berbakat dihadapkan pada pilihan antara keinginan diterima oleh teman-teman atau masyarakat dan pencapaian akademik, dan biasanya perempuan berbakat mengalahkan pencapaian prestasi, ia lebih mendahulukan tuntutan sosialnya. Dari penelitian yang dilakukan oleh Luftig dan Nichols (1991) dilaporkan bahwa siswa laki-laki berbakat lebih diterima dan dianggap menyenangkan oleh teman sekolahnya, sementara siswa perempuan berbakat sebaliknya. Oleh karenanya siswa perempuan berbakat dianggap lebih mudah mengalami depresi dan cenderung memiliki problem psikosomatis, serta memiliki rasa harga diri yang lebih rendah dibandingkan siswa laki-laki. berbakat Keberbakatan dan kemampuan kepemimpinan biasanya hampir selalu dimiliki bersama-sama pada seseorang berbakat. Pada siswa laki-laki berbakat hal ini akan dihargai dan didukung, tetapi pada perempuan gifted sering dianggap ‘bossiness’ dan ditolak.
Perempuan Berbakat di dalam budaya Jawa
Bagi setiap individu dalam perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari suasana budaya tempat ia tinggal, seperti yang dikatakan oleh Bloom (1990) bahwa aspek sosial dan budaya mempunyai pengaruh yang kuat dalam kompetensi seseorang, masyarakat akan memberikan dukungan pada perilaku yang diharapkan dan akan memberikan sangsi pada perilaku yang dianggap tidak tepat (Bloom, 1990). Sesungguhnya menjadi seseorang yang berbakat yang tidak didukung oleh lingkungan sosial (sebagai orang yang mempunyai kreativitas tinggi dan inteligensi tinggi) sebenarnya bukan sesuatu yang mudah, karena masyarakat Jawa lebih mengutamakan kepatuhan dan kesopanan pada seorang anak, atau menolak spontanitas dalam mengungkapkan diri karena dianggap tidak etis. Sementara individu berbakat kurang bisa melakukan hal-hal yang konvensional, mereka suka pembaharuan, mempunyai ide banyak, dan punya interes yang bermacam-macam, bahkan kadang-kadang mereka nampak tidak konformis. Sementara seperti yang diungkapkan oleh Koentjaraningkat (1999) bahwa dalam masyarakat Jawa mengutamakan tingkah laku dan adat sopan santun terhadap sesama dan sangat berorientasi kolateral dan mereka harus mengembangkan sikap tenggang rasa dan
5
mengintesifkan solidaritas. Orang hidup harus sesuai dengan peraturan moral, harus mampu melawan dan menunda terpenuhinya kebutuhan diri, hal ini dapat menimbulkan konflik tersendiri bagi orang berbakat.
Kesulitan untuk mengembangkan diri bagi orang berbakat menjadi lebih besar pada perempuan berbakat dalam budaya Jawa, karena dalam budaya Jawa antara laki-laki dan perempuan mendapat perlakuan dan tuntutan yang berbeda, secara cukup menyolok. Keluarga dan masyarakat Jawa mempunyai pandangan dan harapan yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Pandangan ini mempengaruhi cara perlakuan masyarakat dan pengasuhan orangtua, yang telah mereka tanamkan sejak mereka bayi. Pembagian peran dalam masyarakat yang berhubungan dengan hal-hal ‘apa yang boleh dilakukan’ dan ‘siapa yang boleh melakukan’ mempengaruhi pemahaman mengenai partisipasi masing-masing jenis kelamin dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan hal ini menjadi sangat kuat di bidang pendidikan, biasanya anak laki-laki mendapat prioritas pendidikan yang lebih tinggi, dengan anggapan anak laki-laki kelak akan mendapat pekerjaan, peran dan kedudukan yang tinggi, sementara anak perempuan kelak akan mengasuh anak dan mengurus rumah tangga (Goode, 1997). Hal yang senada dikatakan juga oleh De Jong (1976) yang menuturkan bahwa seperti layaknya dalam keluarga Jawa, lingkungan keluarga dan masyarakat juga lebih memprioritaskan kesempatan dan fasilitas bagi anak laki-laki untuk mengembangkan kemampuannya daripada anak perempuannya.
Di dalam budaya Jawa peran suami dan istri mempunyai batasan yang jelas. Peran suami tidak lepas dari perannya sebagai laki-laki. Peran produksi merupakan peran yang berhubungan dengan kegiatan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, merupakan peran untuk mencari nafkah bagi keluarganya di luar rumah. Peran sosial adalah peran yang dibawa dan dimainkan oleh seseorang dalam masyarakat, peran tersebut berkaitan dengan hidup sosial pada umumnya, seperti peran-peran dalam hukum, pemerintahan, agama, kepemimpinan lain dalam masyarakat. Sedang peran reproduksi adalah peran yang dimainkan oleh kaum perempuan. Peran ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan dan melangsungkan kehidupan, tetapi tidak berhubungan dengan menghasilkan uang, misalnya melahirkan dan mengurus anak, memasak, dan mengurus
6
anggota keluarga, membersihkan rumah dan lain-lain. Dengan adanya perbedaan peran tersebut, kaum istri atau perempuan menjadi lemah, bodoh, dan miskin. Kaum perempuan tidak mempunyai kekuasaan untuk ikut mengambil keputusan, karena posisinya secara sosial yang tidak menguntungkan tersebut, sehingga tidak jarang hal ini membuat mereka dalam posisi yang rapuh (Goode, 1997).
Perbedaan peran laki-laki dan perempuan ini masih dapat dirasakan hingga kini dalam masyarakat Jawa, dan ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada menurunnya jumlah perempuan berbakat yang mampu mengaktualisasikan dirinya. Tidak jarang perempuan yang telah bersekolah hingga tamat perguruan tinggi, akhirnya setelah menikah tidak dapat mengembangkan kemampuannya, karena ia memilih peran reproduksi saja. Kalaupun mereka bekerja mereka memilih bidang pekerjaan yang bisa diterima sesuai dengan perannya sebagai perempuan. Hal ini sudah mulai nampak pada saat mereka diminta untuk menentukan pilihan bidang profesi yang ingin ia lakukan bila mereka bekerja, pertimbangan akan kepantasannya sebagai perempuan menjadi sesuatu yang penting. Akibatnya tidak sedikit perempuan yang potensi dan bakatnya tersembunyi. Perempuan berbakat seringkali menjadi underachievers, artinya ia tidak mampu berprestasi sesuai dengan kemampuannya.
Kesimpulan dan Saran
Dari uraian di atas nampak jelas bahwa faktor budaya mempunyai peran yang sangat penting bagi perempuan berbakat untuk mengembangkan dirinya. Seorang perempuan berbakat sejak masih sangat muda ia telah belajar mengenai perilaku-perilaku yang harus dia kerjakan dan harus ia tidak lakukan sehubungan dengan perannya sebagai seorang perempuan. Budaya Jawa yang lebih memberikan dorongan dan fasilitas kepada anak laki-laki dari pada anak perempuannya. Seorang perempuan tidak boleh banyak ide, berpendapat, dan harus jadi seorang yang penurut, bahkan tidak boleh terlalu pintar. Akibatnya kaum perempuan tidak mempunyai kekuasaan untuk ikut mengambil keputusan, karena posisinya secara sosial yang tidak menguntungkan tersebut, sehingga tidak jarang hal ini membuat mereka dalam posisi yang rapuh. Seorang perempuan
7
berbakat di dalam masyarakat Jawa seringkali menekan keberbakatannya dengan sengaja dan dapat menerimanya sebagai hal yang wajar, namun sebagian mereka menjadi tertekan karena tidak boleh melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan.
Penekanan terhadap keberbakatannya ini menyebabkan jumlah perempuan berbakat menjadi sangat sedikit, sementara kita tahu bahwa sesungguhnya jumlah mereka seimbang dengan laki-laki berbakat. Hal ini sangat disayangkan karena Indonesia dalam menghadapi era globalisasi sangat membutuhkan sumber daya manusia yang handal, yang tentu saja tidak membedakan laki-laki dan perempuan.
Tentu saja kita tidak boleh kehilangan perempuan yang sangat berbakat di bidang matematika, komputer, ataupun di bidang seni. Untuk hal itu kita tidak perlu melakukan beberapa hal perubahan agar terjadi perbaikan, kita mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga, antara lain: (a) menghindari stereotipi peran seks; (b) memberi dorongan bagi anak perempuan berbakat untuk independent dan berani mengambil resiko; (c) membimbing mereka dalam perilaku problem solving dan strategi pengambilan keputusan; (d) keterlibatan ayah sangat penting, karena dari penelitian-penelitian menunjukkan bahwa ayah memegang peran penting pada pembentukan aspirasi anak perempuannya. Bagi masyarakat umum dan pendidik, ada beberapa hal yang diharapkan, yaitu (a) melakukan sedini mungkin mengenali keberbakatan seorang anak; (b) menghindarkan pola pengasuhan atau tuntutan (harapan)yang berbeda bagi anak laki-laki dan perempuan; (c) memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi individu berbakat untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya tanpa mempertimbangkan jenis kelamin.
DAFTAR PUSTAKA
Bloom, M., 1990. The Psychosocial Constructs of Social Competency. In Developing Social Competence in Adolescence. Gullota, T.P.Adams, G. R. and Montemayor (Eds), Raymond. California: Sage Publications. The International Professional Publishers.
8
Callahan, C. M. & Reis, S. M. (1996). Gifted girls remarkable women. In: K. ArnoldK.D. Noble & R.F. Subtonik (eds), Remarkable Women: Perspectives on Female Talent Development (pp. 171-192). Cresskill, NJ: Hampton Press.
Horocks, J.E (1976). The Psychology of Adolescence. Boston Toronto: Houhton Mifflin Company.
Kerr, B,. (2000). Guiding Gifted Girls and Young Women. Monks, F.J. (2000). Developmental Psychology and Giftedness : Theories and Research.. In Heller, K.A., Mönks, F.J., Sternberg, R.J.; dan Subotnik, R.F. (eds) International Handbook of Giftedness and Talent. Perganon Press.
Klein, A. G. (1996) Self-concept and gifted girls: A cross sectional study of intellectually gifted females in grades 3, 5, 8, . Roeper Review19 (1) 30-34.
Kline, B. & Short, E. (1991) Changes in emotional resilience: Gifted adolescent females. Roeper Review (3) 118-121.
Koentjaraningrat. 1999. Kebudayaan Jawa. Jakarta: CV Jambatan
Luftig, R. & Nichols, M. (1991) An assessment of the social status and perceived personality and school traits of gifted students by non-gifted. Roeper Review, 13 (3) 138-153.
Monks, F.J. (2000). Developmental Psychology and Giftedness : Theories and Research. In Heller, K.A., Mönks, F.J., Steinberg, R.J., dan Subtonik, R.F. (eds) International Handbook of Giftedness and Talent. Perganon Press.
Silverman, LK, (1993). Counseling the Gifted and Talented. Denver, Colorado; Love Publishing.
Jong, De S., 1976. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yogyakarta: Yayasan kanisius.
William, J. Goode. Sosiologi Keluarga. Alih Bahasa Lailahanaoum Hasyim. Edisi Pertama, Jakarta : Bumi Aksara.
9
Daftar Riwayat Hidup penulis
Nama : Dra. Endang Widyorini, MS
Pekerjaan : - Staf pengajar Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang
Pendidikan : - Sarjana Psikologi (S1) dari Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah
Mada, tahun 1984
- Magister Sains (MS) dari Pascasarjana Universitas Gadjah Mada,
Jurusan Psikologi Perkembangan tahun 1992
- S3 dari University of Nijmegen, Netherland , tahun 2002
10

No comments:

Post a Comment

bootabel linux

Cara Membuat Bootable Linux Dengan USB Flashdisk Seperti biasa, sebelum memulai pembuatan bootable linux dengan menggunakan flashdisk ada...