Sunday, January 16, 2011

Kesempatan kerja,Pengangguran,Pendidikan

Kesempatan kerja dan pengangguran

Kalau kita mau jujur tentu kita akan mengakui bahwa pengangguran di negeri kita dari tahun ke tahun bertambah besar. Belum lagi apa yang sudah sejak lama kita kenal dengan istilah “disguised unemployement”. Pengangguran jenis ini pada dewasa ini memang perlu di definisi ulang. Jika Prof Wijoyo menceriterakan dengan ilustrasi keluarga ekonomi petani di Jawa tahun 1950-an yang mengerjakan tanah mereka dengan menggunakan terlalu banyak tenaga (yang sebagian besar keluarga) untuk mengerjakan sebidang tanah sempit milik mereka maka setengah abad kemudian Indonesia masih mengalami hal yang sama dan hampir sama. Birokrasi pemerintahan kita adalah contoh dari pengangguran tak kentara ini. Setiap hari di kantor kantor pemerintah tidak nampak karyawan yang sibuk. Bahkan para boss mereka dengan baik hati telah melengkapi kantor mereka dengan perangkat televisi yang boleh ditonton pada jam kerja. Belum lagi penggunaan komputer yang acapkali kalau diperhatikan lebih banyak digunakan untuk bermain “game” atau bahkan yang lebih canggih lagi untuk menelusuri situs-situs internet yang tidak ada relevansinya dengan pekerjaan. Jadi dapat dibayangkan biaya besar yang dikeluarkan oleh pemerintah lewat APBN dan APBD yang begitu besar baik untuk membeli peralatan, membayar listrik dan telepon serta penyediaan ruang kerja nyaman telah membuat pengangguran tidak kentara di sektor pemerintahan ini menjadi jauh lebih mahal dibandingkan dengan yang terjadi di sektor pertanian di pedesaan. Jika sektor pemerintahan alias birokrasi menampilkan
fenomena pengangguran tak kentara yang menyenangkan bagi mereka yang berada di tempat itu, hal ini berbeda dengan di sektor - sektor yang lebih bersifat swasta atau rakyat. Sebagai contoh dapat dikemukakan bagaimana seorang mantan dosen PTN yang bertemu dengan mantan mahasiswanya yang berhasil lulus sarjana lebih lima tahun yang lalu disebuah bank. Sang sarjana muda usia ini tidak melayani mantan dosennya sebagai credit officer dari bank; tetapi dengan sapaan ramah membukakan pintu masuk dengan berseragam satpam. Ketika sang mantan dosen mengenali kembali mantan mahasiswanya dan terlibat pembicaraan akrab maka diketahui bahwa pekerjaan sebagai satpam itu terpaksa diterima oleh sang mantan mahasiswa karena setelah bertahun tahun mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya tidak berhasil. Ketimbang tidak bekerja; menjadi satpam lumayan daripada menganggur. Lebih lanjut kecelakaan di Tempat Pembuangan (sampah) Akhir Bantar Gebang beberapa waktu yang lalu juga mengungkapkan betapa semakin sulitnya bagi generasi muda kita untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian yang didapatkan dari pendidikan. Salah satu media ibukota melaporkan bahwa diantara para pemulung di TPA Bantar Gebang itu ada yang sarjana. Sebuah ironi yang sangat memilukan. Kita tidak tahu apakah ini ukuran kemajuan atau sebuah kemunduran besar bangsa yang dialami bangsa Indonesia. Pemerintah dan sektor swasta (mestinya termasuk koperasi) tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang layak bagi penghidupan anak bangsa. Bisa kita bayangkan betapa akan lebih hebatnya kondisi pengangguran di Indonesia manakala tidak ada kesempatan bagi TKI untuk mencari pekerjaan di luar negeri. Singapura, Malaysia, Saudi Arabia,Hongkong ,Taiwan dan Korea Selatan adalah tempat tempat yang menyenangkan untuk mengais rejeki bagi para TKI kita. Tentu sebagian besar mereka adalah wanita yang lebih terampil dan fleksibel dibandingakan para pria. Tidak mengherankan manakala disana sini terjadi ekses karena begitu banyak wanita (yang sebagian besar datang dari pedesaan) dengan pendidikan minim harus bekerja di manca negara dengan aturan, adat dan budaya yang berbeda dengan tempat asal mereka. Para TKI ini mungkin lebih pantas disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” ketimbang para guru yang pada dewasa ini lagi dipertanyakan jati diri eksistensinya.

Konon puluhan triliun rupiah telah mengalir ke pedesaan yang merupakan kiriman para TKI kepada sanak keluarga mereka. Tidak ada kekurangan pangan dan anak -anak masih sekolah di pedesaan . Hal ini bukan karena keberhasilan program pemerintah akan tetapi lebih karena hasil cucuran keringat bercampur penderitaan dan keterhinaan para TKI. Pemerintahan siapapun boleh menarik nafas lega karena sebagian besar tanggung jawabnya telah diambil alih oleh para wanita yang dengan sadar mengorbankan diri mereka untuk keluarga. Pertanyaan kita adalah apakah kondisi semacam ini akan kita pertahankan dan pelihara kedepan dan disyukuri sebagai rakhmat Sang Pencipta atau kita ingin ada perubahan kearah yang lebih memberikan harkat dan martabat kepada bangsa. Jawaban utamanya adalah terletak kepada kemampuan kita memperbaiki penyelenggaraan pendidikan dan meningkatkan kualitas nya sekaligus. Pendidikan adalah segala galanya. China,Korea Selatan,Singapura dan India sekali lagi membuktikan kepada dunia bahwa dengan pendidikan yang baik mereka mampu menjadikan bangsa mereka menjadi pemenang dari Perang Baratayuda abad millennium alias Globalisasi Dunia. Apakah bangsa Indonesia hanya akan berteriak teriak menyalahkan dunia dan zaman tanpa berbuat apa apa? Ataukah kita harus bertanya kepada rumput yang bergoyang untuk mencari jawabnya.

Peran perempuan dalam karakter Bangsa

Secara umum, semua manusia yang ada di dunia adalah sama. Persamaan itu mencakup hal-hal yang terkait dengan kualitas fisik, psikologis, maupun sosial. Oleh karena itu teori-teori yang menyangkut tentang kondisi-kondisi tersebut di atas berlaku untuk semua umat manusia di dunia. Bukti riil tentang persamaan tersebut antara lain adalah nilai-nilai religious yang berlaku universal, hak-hak asasi manusia se dunia, serta teori-teori tentang kesehatan dan kedokteran. Akan tetapi ketika kita berbicara dalam demensi bangsa, disamping persamaan-persamaan sudah muncul adanya perbedaan-perbedaan. Kondisi geografis yang kemudian memberi pengaruh terhadap cara manusia mengembangkan sistem tata kehidupan dan penghidupan, memberi sumbangan yang cukup besar terhadap adanya perbedaan-perbedaan itu. Selanjutnya ketika kita berbicara soal individu atau orang seorang dalam suatu kondisi atau waktu tertentu, maka perbedaannya akan lebih mengedepan daripada persamaan. Dengan mengingat bahwa kita berasal dari sepasang manusia yang sama, maka pada hakekatnya ada persamaan karakter pada semua manusia dan bangsa di dunia. Mungkin ada beberapa karakter tertentu yang lebih menonjol pada bangsa-bangsa tertentu dan kurang menonjol pada bangsa lain.
Dilihat dari ikatan sosialnya tiap-tiap orang akan terikat sebagai anggota keluarga, masyarakat dan warga negara. Tiap-tiap bentuk ikatan sosial membentuk kerangka referensi dalam mengembangkan sistem nilai, norma, serta kepercayaan baik sosial maupun budaya yang berbeda-beda pula. Jadi semuanya memberikan pengaruh terhadap pembentukan kepribadian yang didalamnya terdapat karakter sebagai salah satu unsurnya.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat majemuk baik dari aspek antropologis, psikologis dan sosiologis. Lebih-lebih lagi jika ditambahkan aspek historis, kemajemukan itu akan lebih luas lagi. Kemajemukan atau kebinekaan ini akan berpengaruh pula dalam pembentukan karakter suatu bangsa. Jadi karakter ada yang bersifat universal, lokal, serta individual. Ada beberapa karakter sosial yang berkembang secara universal, misalnya agresif, penghisap, penakluk, penimbun, dan filantropis. Khusus karakter sosial penimbun, kini semakin tampak nyata perkembangannya di Indonesia. Siapa yang timbunannya (hartanya) besar dia akan dihormati orang, sehingga dorongan untuk menjadi penimbun terbesar sangat kuat. Di dunia politik berkembang sebuah ungkapan tidak ada persahabatan yang abadi. Pada tingkat paling puncak yang hanya ada satu orang, disinilah karakter pribadi itu akan tampak. Karakter raja tega, adalah julukan yang paling tepat bagi mereka yang ingin mencapai posisi puncak dengan cara Machiavelis. Menaklukkan dengan cara-cara yang lurus biasanya adalah sangat sulit, sehingga orang menempuh dengan segala cara. Demikian kata Machiaveli. Karakter seperti ini juga universal. Kini perempuan-perempuan Indonesia semakin banyak yang terjun ke dunia politik. Mungkin belum tampak perbedaan yang signifikan karakter politik perempuan dan laki-laki, karena belum banyak perempuan yang berperan atau tak seimbang dengan jumlah politisi laki-laki.

Pembatasan
Pendidikan karakter dalam masyarakat sebenarnya sudah banyak dilakukan. “Taman Bermain”, “Taman Kanak-Kanak”, atau PAUD pada dasarnya merupakan media pembentukan karakter. Disinilah pengembangan dasar-dasar kecerdasan emosional, spiritual dan sosial mulai dibentuk dan ditanamkan. Akan tetapi masyarakat masih terpukau dengan kecerdasan intelektual, sehingga lembaga-lembaga pendidikan tersebut di atas agak menggeser arah tujuannya, dan kurikulum, metode serta teknik pendidikannya untuk memenuhi tuntutan pasar. Dari uraian di atas tampak bahwa proses pembentukan karakter sangatlah kompleks, baik dipandang dari aspek manusia, lingkungannya, maupun dari proses pembentukannya. Semestinya pembentukan karakter menjadi “pendidikan seumur hidup” dan menjadi tanggung jawab bersama keluarga, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena luas dan rumitnya pembentukan karakter, maka tulisan ini dibatasi pada beberapa hal sbb :
1. Perempuan yang dimaksud dalam hal ini adalah ibu yang berada dalam sebuah keluarga. Dengan pertimbangan bahwa ada tiga hal pada ibu yang tak dapat dikerjakan oleh laki-laki, yaitu hamil, melahirkan dan menyusui. Nilai yang dioperasionalkan adalah tiga buah nilai yang bersumber dari ajaran agama, yaitu “surga di bawah telapak kaki ibu, perempuan adalah tiang negara, dan carilah ilmu mulai dari ketika bayi masih dalam timangan sampai ke liang lahat”. Dalam hal ini dibatasi lagi hanya sampai pada timangan saja.
2. Karakter dalam hal ini dilihat dari proses pembentukannya. Pada tahap awal kehidupan individu, ibu adalah orang yang paling dominan pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian. Sesuai dengan teori konvergensi bahwa kepribadian itu dibentuk oleh faktor-faktor bawaan dan lingkungan. Jadi persoalannya di sini adalah bagaimanakah agar kualitas bawaan itu lebih baik.
Setidaknya ada tiga orang istimewa yang ketika masih di dalam kandungan sudah dapat diajak berbicara, yaitu Nabi Isa AS, Fatimah RA, dan Imam Safii. Dari tiga kejadian itu tampak bahwa bayi dalam kandungan dapat merespon rangsangan dari luar. Asumsi ini diperkuat dengan adanya Mozart Effect, bahwa musik klasiknya Mozart dapat direspon oleh bayi dalam kandungan. Berdasar asumsi ini maka pendidikan karakter itu dapat dimulai dari ketika bayi masih dalam kandungan.
3. Kelompok sosial yang terpilih adalah keluarga, karena keluarga merupakan tempat persemaian awal pembentukan karakter seseorang.
Perilaku, kepribadian dan karakter adalah tiga hal yang sangat sulit untuk dipisahkan. Dalam perilaku terkandung didalamnya kepribadian dan karakter. Maka ketiga istilah ini digunakan secara bersama-sama dalam tulisan ini. Ada delapan variabel yang mempengaruhi perilaku seseorang, yaitu nilai, perasaan, persepsi, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, masalah, dan harapan. Kedelapan variabel ini dapat berubah dari waktu ke waktu, dengan syarat orang tersebut berusaha untuk mengubahnya. Meskipun karakter dapat berubah, tetapi mengubah karakter yang sudah terbentuk bukanlah hal yang mudah. Bagaimana pun buruknya karakter tersebut, jika dipandang oleh pemiliknya hal itu menguntungkan maka akan dipertahankan. Contohnya adalah karakter tidak jujur (termasuk didalamnya perilaku korup). Sudah puluhan tahun ketidakjujuran dalam birokrasi ini diperangi, hasilnya korupsi malah melesat naik, baik kuantitas maupun kualitasnya, sehingga kita malah menjadi negara terkorup di dunia.
Berdasar uraian di atas, maka amatlah sulit untuk menggambarkan secara khusus sebuah saja karakter yang benar-benar hanya ada pada wanita sehingga tidak dimiliki oleh laki-laki. Demikian pula karakter Bangsa Indonesia yang benar-benar berbeda dari bangsa lain. Maka sulit pula untuk menggambarkan hubungan antara perempuan dengan karakter bangsa, karena perempuan dan laki-laki selalu hidup dalam suatu kelompok sosial yang saling pengaruh mempengaruhi. Mungkin karakter religius, gotong royong, dan gambang diajak berbicara (talkity) menonjol bagi Bangsa Indonesia.
Perempuan Penyihir.
Dalam dongeng dari Barat banyak kisah yang berbau mistik dengan tokoh pangeran yang dikutuk oleh nenek sihir, tetapi kutukan tersebut hancur oleh perawan cantik yang berbuat dengan kasih sayang dan ikhlas. Jadi penyihir yang sebenarnya adalah kasih sayang dan ikhlas. Dari Timur Tengah ada perempuan yang sangat cerdas emosional yang terkenal dengan tokoh dongengnya “Seribu Satu Malam”, si Abunawas. Karakter perempuan ini adalah karakter penghibur. Di Indonesia Kartini dapat dikategorikan dalam kelompok perempuan penyihir yang dengan cita-citanya mampu membangkitkan perempuan Indonesia. Nafas dari cita-cita Kartini adalah menyingkirkan belenggu sosial budaya, persamaan kesempatan dan menyerdaskan bangsa. Karakter Kartini adalah karakter pendobrak yang lembut. Dewi Sartika mengedepan karater pendidiknya. Cut Nyak Dien dengan karakter pemberani. Setelah 50 tahunan merdeka yang banyak muncul adalah perempuan penyihir di bidang intertainmen. Inul dengan goyang pantatnya pernah menyihir Indonesia. Berikutnya banyak artis-artis yang dengan kecerdasan kinestetiknya menyihir Indonesia lewat panggung hiburan.
Di atas adalah contoh beberapa perempuan berkarakter yang pernah menjadi penyihir. Kehadiran mereka dengan aktivitasnya merupakan bentuk respon terhadap tekanan sosial psikologis pada jamannya. Negara kita kini sedang mengalami tekanan dari berbagai krisis. Barangkali krisis karakter positif adalah yang terparah. Dari media dapat kita lihat karakter yang mengedepan saat ini adalah karakter perusak, peminta, sadistik, pemaksa, penelanjang kekurangan orang lain, korup, penyuap, egoistik, suka berkeluh kesah, dll.
Kini diharapkan munculnya ibu-ibu penyihir, yaitu Ibu yang melahirkan bayi-bayi unggul dan mendidik hati nurani sejak bayi ketika masih dalam timangan. Jadi sihir disini merupakan kiasan untuk mengubah dengan cepat. Dalam hal ini dikembangkan juga langkah-langkah sinergis interaksi antar orang dalam keluarga, sehingga keluarga menjadi sebuah lembaga pembangun dasar karakter bangsa sejak dini. Jadi tidak hanya ibu saja yang menjadi bintang. Memang Ibu adalah pemeran utama. Suami dan orang dewasa lainnya bila ada merupakan bintang-bintang pendukung. Keluarga benar-benar diarahkan untuk mewujudkan fungsi-fungsinya secara gotong royong. Selanjutnya pembangunan karakter bangsa ini dikembangkan menjadi gerakan nasional yang diikuti dengan program-program penguatan fungsi dan pemberdayaan keluarga. Ada beberapa fungsi keluarga yang strategis untuk tujuan ini, yaitu reproduksi, sosialisasi, pendidikan, afeksi, perlindungan dan religius. Reproduksi adalah hak suci setiap orang dewasa yang berkeluarga. Tetapi reproduksi yang berlangsung dalam suasana yang bahagia, aman, dan terencana perlu terus menerus disosialisasikan. Para dokter anak sangat menganjurkan agar sejak terjadi pembuahan sampai dengan lima bulan ke depan kecukupan gizi janin harus benar-benar diperhatikan agar pembentukan sel otaknya sempurna. Demikian pentingnya periode ini sampai-sampai ada dokter anak yang menganjurkan “kalau perlu keluarga itu melakukan hutang untuk menjaga kecupukan gizi janin”. Luar biasa. Kesadaran seperti ini juga harus ditanamkan dalam keluarga.
Selain itu adalah langkah untuk mengokohkan ketiga nilai di atas kepada ibu. Bahwa saya adalah tiang negara, surga dibawah telapak kaki saya, dan saya adalah peletak dasar dan awal bagi pendidikan anak-anak bangsa. Ketiga kalimat ini harus benar-benar dan terus-menerus terngiang-ngiang pada diri setiap perempuan Indonesia, sehingga janin dan bayi yang dikandungnya kelak akan lahir dengan sudah akan membawa karakter positif. Kunci dari segala karakter adalah iman dan taqwa kepada Allah SWT, maka nuansa religius dikembangkan dan dikuatkan untuk menjadi hiasan wajib dalam setiap keluarga.
Penutup
Hanya perempuan yang berilmu, bertawa, dan beramal saleh yang akan dapat membentuk anak-anak berkarakter positif. Suatu hari ketika kholifah Umar bin Khotob RA sedang begadang, menjelang pagi dari sebuah rumah terdengar dialog antara anak perempuan dan ibunya sbb “Ibu bukankah menambahkan air ke dalam susu untuk dijual dilarang oleh Umar. Ah Umar kan tidak melihat kata ibunya. Iya Umar memang tidak melihat, tetapi Tuhannya Umar kan melihat jawab anak perempuannya”. Mendengar dialog itu Umar lalu lari pulang. Keesokan harinya Umar melamar anak perempuan itu untuk anak laki-lakinya. Dari perkawinan itu kelak akan menurunkan seorang kholifah yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Demikian damainya saat belia menjadi kholifah, sampai-sampai serigala pun tidak pernah menerkam domba.

Pengangguran dan kesempatan kerja

Kata rekan saya, seorang self-made entrepreneur, ”Jaman sekarang, susah sekali nyari karyawan yang jujur, capable, berdedikasi tinggi, dan bisa diandalkan untuk kemajuan perusahaan.”

Kata teman saya, lulus sarjana beberapa tahun lalu tetapi belum mendapatkan pekerjaan yang settle, ”Perusahaan sekarang suka rewel, buka lowongan ’semau gue’ dengan spesifikasi yang aneh-aneh dan sulit dipenuhi. Pekerjaan jadi susah dicari.”

Ketika mewisuda lulusannya, salah seorang dekan business school terkemuka di Amerika selalu berpidato, “Kita harus memberikan respek kepada mereka yang mempunyai nilai A, karena mereka akan kembali ke almamater menjadi dosen dan melupakan duniawi. Namun kita harus lebih membungkukkan kepala kepada mereka yang mendapat nilai B dan C, karena mereka akan kembali lagi ke kampus dengan menyumbang laboratorium, auditorium, serta menjadi penyandang dana.”

Menurut Suara Merdeka, ”Sampai akhir 2005, tingkat pengangguran merangkak naik mencapai tidak kurang dari 9,9%, Pada awal 2006, tingkat pengangguran tersebut diperkirakan masih akan meningkat menjadi lebih dari 11%.”

Sementara Kompas edisi Sabtu, 20 Mei 2006 menulis, ”Per Februari 2005, dari 155,5 juta angkatan kerja, 10,85 juta adalah pengangguran terbuka. Padahal, per Agustus 2000, dari 95,70 angkatan kerja, “hanya” 5,87 juta yang merupakan pengangguran terbuka.”

Dari ilustrasi, data, dan fakta di atas, kita bisa lihat betapa ”besarnya” kontribusi pendidikan terhadap terbukanya lapangan pekerjaan. Negeri ini mungkin punya ribuan sarjana multi-jurusan yang diyakini bisa berpikir analitis, mampu menciptakan perubahan dalam masyarakat, tetapi toh ternyata mereka belum mampu membantu diri mereka sendiri. Ini belum termasuk opportunity cost yang keluar ketika melanjutkan kuliah setamat SMU. Mengapa tidak menggunakan waktu dan biaya untuk berwiraswasta saja?

Seharusnya..
Idealnya, kampus seharusnya bisa membangun linkage yang ideal antara lulusan sekolah menengah dengan lapangan pekerjaan di dunia nyata. Bagi top-tier business school di dunia, ini bukan masalah. Mayoritas lulusan kerja mereka sukses dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji 2-3 kali dari jumlah yang mereka investasikan untuk kuliah di business school tersebut.

Bagaimana di Indonesia?

Sayangnya, di Indonesia, gap tersebut terasa begitu kentara. Ijazah sarjana tidak lagi sakral saat ini. Hal ini juga didukung fakta bahwa banyak perguruan tinggi negeri yang membuka kelas diploma, program ekstensi/swadaya, kelas malam, fast-track program, dan seterusnya. Perguruan tinggi swasta juga bermunculan tak kalah banyaknya. Akibatnya, ijazah sarjana semakin mudah (walau belum tentu murah) diperoleh. Kondisi ini masih diperparah dengan perguruan tinggi “biasa-biasa saja” yang mengobral nilai, sementara perguruan tinggi top justru dipenuhi dosen killer yang sulit memberi nilai A.

Selain dituntut menjadi linkage yang kokoh, kampus juga selayaknya bisa menjadi inkubator bisnis yang kuat. Tidak banyak orang yang tahu bahwa Sun Microsystems adalah kepanjangan dari Stanford University Network, karena memang perusahaan ini memulai bisnisnya dari lingkungan kampus. Dan satu lagi, Google dan Yahoo!, juga sama-sama lahir dari kegiatan intelektual di universitas. Malah, Google adalah hasil dari proyek disertasi kedua pendirinya. Baik Google, Yahoo!, atau Sun Microsystems, masing-masing telah bertumbuh menjadi perusahaan besar dengan tingkat profitabilitas yang luar biasa.

Inilah salah satu bukti bahwa kampus, selain menjadi linkage bagi lapangan pekerjaan di dunia nyata, juga bisa menjadi inkubator yang hebat. Tanpa membunuh spirit dan mengekang kebebasan berpikir siswa didiknya. Sayangnya, lagi-lagi di Indonesia belum memiliki perguruan tinggi yang cukup mumpuni untuk menjadi inkubator bisnis yang handal.

Menurut Saya..
Dari situlah saya coba menyusun beberapa intisari berikut. Tujuannya jelas. Agar kita mencapai kesuksesan sesuai dengan kapasitas kita. Baik itu sebagai seorang pengusaha, businessman, karyawan, atau seorang siswa/mahasiswa. Antara lain sebagai berikut.

Sekolah itu (tetap) penting. Coba Anda lihat di sekeliling kita. Ada berapa banyak macam pekerjaan? Ratusan. Ribuan bahkan. Seharusnya, secara logika harus terdapat puluhan ribu macam sekolah/kampus/jurusan. Tentu saja ini tidak mungkin dilakukan. Jadi, sekolah memang tidak bisa menjadikan lulusannya benar-benar 100% siap kerja –kecuali sekolah/kursus setir mobil.

Saya bukan bermaksud menyatakan bahwa sekolah tidak penting. Sekolah dan ijazah, bagaimanapun juga, membuat entry barrier untuk mencari kerja lebih baik dibanding jika kita tidak sekolah dan tidak berijazah. Sekolah juga merupakan tempat terbaik untuk akses pengetahuan terkini, plus akses bagi orang-orang top di lingkungan akademis.

Belajar, lifelong education, juga penting. Menyambung poin di atas, sekolah memang hanya bisa mengajarkan prinsip-prinsip umum dan rerangka berpikir yang logis, analitis, dan sistematis. Jangan berharap sekolah akan menjamin pekerjaan kita kelak. Sebaliknya, sebagai siswa kita dituntut untuk bisa berpikir dan mengembangkan terus cara berpikir kita. Biarlah sekolah berkonsentrasi pada penciptaan perangkat berpikir.

Jadi, jadilah proaktif. Hidup adalah belajar. Jangan menyalahkan sekolah karena keterbatasan sekolah dalam mengajarkan materi teknis atau memberi jaminan bagi pekerjaan pasca kelulusan. Jangan pula terpaku bahwa konsep belajar hanya bisa dilakukan di sekolah. Sabda nabi, ”Tuntutlah ilmu sejak di tiang ayunan hinga di liang lahat.” Dalam statement yang lain, nabi juga bersabda,”Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina.”

Tapi memberi kontribusi adalah yang terpenting. Lifelong education will make live easy. Belajar dan berpikir adalah mulia, tetapi akan menjadi sia-sia bila tidak diaplikasikan dalam dunia nyata. Ilmu dan pengetahuan juga akan menjadi useless ketika pemiliknya tidak bisa menularkan wisdom tersebut kepada orang lain. Jika sebagian dari kita ada yang sukses di bidangnya, kemudian menularkannya pada orang lain, multiplier effect yang muncul untuk penciptaan dunia yang lebih baik adalah luar biasa besarnya. Dan semakin tinggi pengaruh seseorang, semakin tinggi pula eksistensi yang dimilikinya, karena pengaruh tersebut bisa melintasi ruang, waktu, dan bahkan, melampaui ajal.

Sungguh. Begitu banyak orang-orang pintar memenuhi penjuru dunia, tetapi sering lamban dalam mengambil keputusan-keputusan bisnis karena harus menyesuaikan dengan text-book. Kalau saya tanyakan bagaimana mengubah Rp 50 juta menjadi Rp 1 milyar dalam 12 bulan, mungkin bisa dijawab dalam sekian menit. Tapi melakukannya dalam tindakan yang konkrit? I doubt it.

Sekolah nyambi kerja/organisasi itu perlu. IPK tinggi memang penting. Akan tetapi, perusahaan kini juga memperhatikan aktivitas ekstrakurikuler seseorang ketika akan melakukan rekrutmen. Tujuannya jelas. Mereka ingin meng-hire a ”well-rounded” person, bukan semata-mata nerd.

Sekolah mengajarkan kita tentang kepemimpinan -tapi hanya dengan pengalaman berorganisasilah kita benar-benar bisa menguasai manajemen konflik dan kepentingan. Kuliah memaparkan kita tentang prinsip-prinsip budgeting –namun hanya dengan magang di sektor ritel kita bisa benar-benar memahami tentang stock opname dan expense budget.

Berinvestasilah pada human capital dan social network. Pengusaha sukses jelas tidak melakukan segalanya seorang diri. Ia menyewa orang untuk membantu dirinya dalam berbisnis. Kalau orang tersebut menghasilkan output lebih besar dari input, berarti ia memberi kemakmuran bagi perusahaan. Orang-orang tersebut mungkin telah menghabiskan waktu untuk bersekolah dan menimba pengalaman. Tanpa mereka, mustahil seorang pengusaha meraih kesuksesan.

Bisnis hanya bisa dicapai melalui jejaring sosial yang kuat dan luas. Untuk membangunnya, jelas diperlukan pengorbanan waktu dan tenaga yang luar biasa. Inilah satu-satunya aset yang paling berharga sehingga menimbulkan barrier to entry yang tinggi dan menjadikannya sulit direplikasi dengan mudah. Dengan demikian, Anda akan berada pada bisnis dengan tingkat kompetisi yang rendah; dan keuntungan jauh di atas normal memang mudah untuk diperoleh.

Going Global. Kompas edisi Sabtu, 20 Mei 2006 juga menulis, ”Bangsa ini juga menagalami brain drain untuk sumber daya manusianya. Tenaga terdidik dan profesional yang seharusnya bisa ikut membangun negara ini dibajak atau memilih hengkang ke negara lain.” Going global ataupun knowledge transfer adalah perlu –tapi jangan lupakan nasionalisme.

Baik Anda sebagai seorang pengusaha, atau seorang pekerja, sudah selayaknya Anda memiliki persepsi dan paradigma untuk bersaing dalam tataran bisnis di dunia global. Ada teknologi. Ada internet. Kalau Anda butuh pekerjaan di dunia global, bisa coba Jobs/Monster, Rent-a-Coder, atau eLance. Kalau Anda ingin merintis bisnis perdagangan internasional, bisa dimulai dari eBay Stores, atau Alibaba. Yang jelas, siapkan diri Anda untuk bersaing dengan mereka-mereka di luar sana. Dan jangan abaikan nasionalisme.

Jangan mudah terpikat pada “Cara Cepat Jadi Kaya”. Setelah era Kiyosaki, kian banyak pakar/pembicara/motivator yang kemudian menggampangkan cara menjadi kaya, apalagi dengan penekanan pada aspek non teoretis. Kalau sebuah bisnis bisa berjalan tanpa perlu teori, logikanya entry barrier bisnis tersebut sangat rendah dan orang yang tidak tahu teori (plus semua yang tahu teori) bisa terjun dalam bisnis itu. Dalam lingkungan yang overcrowded tersebut, profitabilitas pada tingkat yang normal saja menjadi sulit karena dipenuhi banyak pesaing. Inilah konsekuensi dari Red Ocean.

Andaikata buku/training/seminar tersebut memaparkan tentang entry barrier, jualan mereka menjadi kurang laku. Sejujurnya, yang mereka jual adalah ”mimpi indah”. Semakin sesuatu kelihatan gampang dikerjakan (tanpa perlu sekolah, tanpa perlu teori, dan seterusnya), semakin ”mimpi” itu terasa gampang dicapai, dan semakin laku pula para penjual mimpi tersebut. Best seller!

Jadilah unik. Silakan Anda membantah, tapi Tuhan sudah menentukan tiap manusia dengan bakat, talenta, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Beethoven, adalah jenius dalam bermusik walau menderita bisu dan tuli –tapi jangan suruh dia menghitung kalkulus. Goethe adalah piawai dalam sastra dan bahasa –tapi jangan paksa ia menulis simfoni. Newton adalah pakar dalam fisika dan mekanika –tapi jangan bayangkan ia menyair atau menulis puisi. Beckham mungkin piawai dalam mengumpan bola dan melakukan tendangan bebas -tapi jangan suruh ia memprogram komputer.

Jadi, temukan keunikan dalam diri Anda. Kembangkan keunikan tersebut agar menjadi keunggulan kompetitif yang sulit disaingi orang lain. Keunggulan tersebut akan membedakan Anda dari orang lain dan pada akhirnya menaikkan nilai jual Anda.

Work hard, play hard. Dalam Qur’an 13:11 tertulis, ”Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Jadi jelas, kalau kita menginginkan kesuksesan, maka berencanalah dengan matang, berodalah secara khusyuk, berusahalah dengan sekuat tenaga, dan serahkan hasilnya pada Tuhan. Percayalah, rejeki bukan di tangan Tuhan –tapi ada di tangan (usaha) kita sendiri.

Oh iya, self-made entrepreneur yang saya sebut di paragraf awal tadi tidak pernah membaca buku-buku ”Get Rich Quick” atau mengikuti seminar ”Cara Cepat Jadi Kaya”. Beliau menikmati pekerjaannya sembari menikmati hasil dari apa yang beliau usahakan. Sementara orang lain sibuk memikirkan (memimpikan) passive income, beliau malah menikmati real income yang menumpuk di tangannya.

Respect the others. Last but by no means least, IPK tinggi atau rendah, sarjana atau bukan, valid atau tidak valid –itu urusan masing-masing. Menjadi pengusaha, businessman, atau pekerja (karyawan) yang biasa-biasa saja –itu adalah soal pilihan hidup. Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan mengandung risiko masing-masing.

Manusia memang tercipta dengan berbagai perbedaan yang tak mungkin disatukan. Jadi, jangan memaksakan orang lain untuk berpikir dan bertindak sesuai cara kita. Begitu pula, jangan merendahkan dan menghina mereka yang ada di bawah level kita ataupun iri dan berburuk sangka terhadap mereka yang berada di atas kita.

Penutup
Anyway, sudah pernah dengar anekdotnya Larry Ellison, founder of Oracle? Kata beliau kuliah itu cuma dapat BS (bull shit), kemudian MS (more shit), dan setelah itu PhD (pile high and deep).

No comments:

Post a Comment