Tuesday, January 25, 2011

pubertas pada wanita

Fisiologi pubertas pada wanita

Pubertas pada wanita
 
Pubertas adalah tahapan maturasi fisik di mana individu menjadi mampu secara fisiologis untuk reproduksi. Perubahan yang terjadi selama pubertas dipengaruhi oleh faktor neurohormonal yang memodulasi pertumbuhan somatis dan pembentukan organ seksual. Semua mekanisme yang terjadi selama pubertas merupakan hasil dari aktivasi sumbu (jalur) hipotalamus-hipofisis-gonad. Aktivasi sumbu ini bertanggung jawab terhadap perubahan-perubahan biologis, morfologis, dan psikologis selama pubertas.
Tanner membagi tahapan yang terjadi selama pubertas. Tahapan ini dibagi menjadi dari T1 sampai T5, di mana T1 identik dengan perkembangan masa anak-anak dan T5 identik dengan maturitas penuh.
Pada wanita, pubertas diawali dengan munculnya karakter seks sekunder pada usia sekitar 10,5 tahun. Terkadang pubertas bisa muncul lebih awal dan bisa juga lebih cepat. Pubertas dikatakan prekoks (prematur) apabila tanda-tanda seks sekunder muncul pertama kali sebelum usia 8 tahun dan dikatakan terlambat jika muncul pada saat menginjak usia lebih dari 13 tahun.

Perkembangan karakter seks sekunder pada wanita meliputi pembesaran ovarium, uterus, vagina, labia, payudara, serta tumbuhnya rambut pubis dan aksila. Di antara semuanya, yang pertama kali muncul adalah pembesaran payudara (telarche) dan diikuti tumbuhnya rambut pubis-aksila 6 bulan setelahnya. Sedangkan uterus mencapai ukuran sesuai T4 menurut Tanner (hampir matur) ketika menstruasi pertama kali (menarche). Beberapa hal penting lain yang terjadi selama pubertas wanita antara lain adanya pacu tumbuh adolesen (suatu percepatan pertumbuhan tinggi badan) dan munculnya jerawat (acne vulgaris) pada usia sekitar 11-14,5 tahun. Menarche sendiri muncul antara usia 12,5-13 tahun. Pada pubertas prekoks, menarche terjadi pada usia 10 tahun sedangkan pada pubertas terlambat menarche baru muncul hingga usia 15 tahun. Siklus ovulasi pada wanita terjadi sekitar 9-10 bulan setelah menarche.
Pubertas dapat dikatakan telah lengkap dalam 3-4 tahun setelah onset pertama, dan pertumbuhan somatik (tinggi badan) masih bisa berlangsung 2 tahun setelahnya (jadi kira-kira 5-6 tahun setelah onset pertama pubertas).
Beberapa istilah yang sering digunakan dalam tanda-tanda seks sekunder pada wanita antara lain (1) telarche, yaitu pembesaran payudara, (2) pubarche, yaitu tumbuhnya rambut pubis, (3) menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali terjadi, dan (4) adrenarche, yaitu tumbuhnya rambut aksila sebagai akibat peningkatan androgen dari adrenal.
Inisiasi pubertas pada wanita
Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai usia pubertas. Hal ini disebabkan adanya penekanan (supresi) aktifitas GnRH hipotalamus pada fase prepubertas (anak-anak). Penekanan terhadap aktifitas GnRH ini menghilang (diinhibisi) ketika memasuki usia pubertas. Mekanisme apa yang mengatur sehingga penekanan tersebut diinhibisi masih belum dipahami sepenuhnya.
Perubahan fisik yang terjadi selama pubertas pada wanita
Untuk mempermudah pemahaman mengenai perubahan fisik yang terjadi selama pubertas pada wanita, Tanner menggolongkannya menjadi beberapa tahapan yang ditandai dengan dari T1 (Tanner 1) sampai T5.
Tanner (T)Perkiraan usiaTelarchePubarcheKecepatan pertumbuhan tinggi badan/tahunLain-lain
110 tahun atau kurangElevasi puting susu, areola masih sejajar dengan permukaan dadaTidak ada rambut, atau ada rambut namun bentuknya seperti vilus5-6 cmAdrenarche
210-11,5 tahunTunas payudara bisa teraba, areola membesarRambut jarang, sedikit berpigmentasi7-8 cmPembesaran klitoris, pigmentasi labia
311,5-13 tahunPayudara melebar melebihi batas areolaMenjadi lebih kasar, gelap, dan keriting8 cmAcne vulgaris, rambut aksila
413-15 tahunPutting susu berada di atas bukit areolaTipe dewasa, namun penyebarannya sebatas pubis<7cmMenarche
515 tahun atau lebihIntegrasi puting susuTipe dewasa dan penyebarannya hingga ke paha sebelah dalamMencapai tinggi maksimal pada usia 16 tahunOrgan genital dewasa
Pengaruh hormonal
Perubahan yang terjadi selama pubertas, baik pemunculan karakter seks primer maupun sekunder, semuanya diregulasi neurohormon. Ada banyak hormon yang mengatur hal tersebut, dan cara kerjanya saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
Secara garis besar terdapat tiga hirarki hormonal yang berperan saat pubertas pada wanita yaitu (1) Gonadotopin-releasing hormone (GnRH) yang dihasilkan oleh hipotalamus, (2) Follicle-stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH) yang dihasilkan oleh hipofisis anterior sebagai respons atas GnRH, dan (3) Estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh ovarium sebagai respons atas FSH dan LH.
1. Gonadotopin-releasing hormone (GnRH)
  
GnRH adalah hormon peptida yang dihasilkan oleh hipotalamus, yang menstimulasi sel-sel gonadotrop pada hipofisis anterior. Di hipotalamus sendiri pengeluaran GnRH diatur oleh nukleus arkuata. Neuron pada nukleus arkuata memiliki kemampuan untuk memproduksi dan melepas gelombang GnRH ke hipofisis.
2. Gonadotopin
Gonadotropin pada wanita meliputi Follicle-stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH). Baik FSH dan LH disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior pada usia antara 9-12 tahun. Efek dari sekresi hormon tersebut adalah siklus menstruasi yang terjadi pada usia sekitar 11-15 tahun. Periode ini dikatakan pubertas sedangkan siklus menstruasi pertama disebut menarche.
FSH dan LH bekerja menstimulasi ovarium dengan berikatan pada reseptor FSH dan reseptor LH. Reseptor yang teraktivasi akan meningkatkan laju sekresi sel, pertumbuhan, dan proliferasi sel. Aktivitas ini diperantarai oleh cAMP.
  • Follicle-stimulating hormone (FSH)
  
FSH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein, diproduksi di sel gonadotrop hipofisis, distimulasi oleh hormon aktivin dan dihambat oleh hormon inhibin. FSH berfungsi dalam pertumbuhan, perkembangan, maturasi saat pubertas, dan reproduksi.
Pada wanita, FSH menstimulasi maturasi sel-sel germinal, menstimulasi pertumbuhan folikel terutama pada sel-sel granulosa dan mencegah atresia folikel. Pada akhir fase folikular kerja FSH dihambat oleh inhibin dan pada akhir fase luteal aktivitas FSH kembali meningkat untuk mempersiapkan siklus ovulasi berikutnya, demikian seterusnya.
Kerja FSH juga dihambat oleh estradiol (estrogen) yang dihasilkan oleh folikel matang sehingga menyebabkan folikel tersebut dapat mengalami ovulasi sedangkan folikel lainnya mengalami atresia.
  • Luteinizing hormone (LH)
 
LH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein heterodimer, diproduksi di sel gonadotrop hipofisis dan kerjanya tidak dipengaruhi oleh aktivitas aktivin, inhibin, dan hormon seks.
Pada saat FSH menstimulasi pertumbuhan folikel, khususnya sel granulosa, maka pengeluaran estrogen akan memicu munculnya reseptor untuk LH. LH akan berikatan pada reseptornya tersebut dan estrogen akan mengirim umpan balik positif untuk mengeluarkan lebih banyak lagi LH. Dengan semakin banyaknya LH, maka akan memicu ovulasi (pengeluaran ovum) dari folikel sekaligus mengarahkan pembentukan korpus luteum. Korpus luteum yang terbentuk akan menghasilkan progesteron yang berguna pada saat implantasi.
3. Estrogen dan progestin
Estrogen
Pada wanita yang sedang tidak hamil, estrogen diproduksi di ovarium dan korteks adrenal, sedangkan pada wanita hamil estrogen juga diproduksi di plasenta. Ada tiga macam estrogen yang terdapat dalam jumlah signifikan: β-estradiol, estrone, dan estriol. β-estradiol banyak diproduksi di ovarium sedangkan estrone lebih banyak diproduksi di korteks adrenal dan sel-sel teka. Adapun estriol adalah turunan β-estradiol dan estrone yang sudah dikonversi di hati. Karena β-estradiol memiliki potensi estrogenik 12 kali lebih kuat dibanding estrone dan 80 kali lebih kuat dari estriol, maka β-estradiol dikatakan sebagai estrogen mayor.
Efek dari estrogen adalah menstimulasi proliferasi seluler dan pertumbuhan organ seks dan jaringan lainnya terkait reproduksi. Berikut adalah efek estrogen secara spesifik:
  • Uterus dan organ seks eksternal
Pada masa pubertas, estrogen diproduksi sekitar 20 kali lipat lebih banyak dibanding masa prepubertas. Peningkatan kadar hormon ini, bersamaan dengan penimbunan lemak,  menyebabkan perubahan-perubahan spesifik yaitu pembesaran ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina.
Estrogen juga mengubah epitel vagina dari epitel kuboid menjadi epitel bertingkat yang lebih resisten terhadap trauma dan infeksi.
  • Tuba fallopi
 
Estrogen menyebabkan proliferasi jaringan pada lapisan mukosa tuba fallopi. Selain itu estrogen juga meningkatkan jumlah dan aktivitas sel-sel silia, yang penting dalam pergerakan ovum yang telah difertilisasi.
  • Payudara
 
Estrogen menyebabkan perkembangan jaringan stromal pada kelenjar payudara, pertumbuhan sistem duktus, serta deposisi lemak. Lobulus-lobulus dan alveoli berkembang menjadi lebih luas.
  • Sistem rangka
Estrogen menghambat aktivitas osteoklas sehingga mengurangi penyerapan osteosit dan meningkatkan pertumbuhan tulang. Estrogen juga menyebabkan penyatuan epifisis pada tulang-tulang panjang. Diketahui bahwa efek estrogen pada wanita lebih kuat dibandingkan efek testosteron pada pria, namun penghentiannya yang cepat menyebabkan wanita cenderung lebih pendek dibanding pria.
  • Deposisi protein
 
Estrogen menyebabkan peningkatan protein total tubuh, hal ini dibuktikan oleh keseimbangan nitrogen yang lebih positif setelah pemberian estrogen. Namun jika dibandingkan dengan testosteron, efek deposisi protein yang ditimbulkan oleh testosteron lebih kuat dibandingkan estrogen.
  • Metabolisme tubuh dan deposisi lemak
Estrogen meningkatkan laju metabolik tubuh, namun lebih lemah jika dibandingkan dengan efek yang sama oleh testosteron pria. Selain itu estrogen juga meningkatkan jumlah lemak subkutan dan mendeposisinya pada daerah-daerah tertentu seperti payudara, bokong, dan paha sehingga memunculkan gambaran melekuk wanita yang khas.
  • Distribusi rambut
Estrogen tidak memiliki efek besar terhadap pendistribusian rambut. Adapun tumbuhnya rambut di daerah pubis dan aksila merupakan peran dari androgen adrenal.
  • Kulit
Estrogen menyebabkan kulit wanita memiliki tekstur yang lembut dan halus namun lebih tebal jika dibandingkan dengan kulit anak-anak. Selain itu estrogen juga menyebabkan kulit menjadi lebih vaskular. Hal ini sering diasosiasikan dengan peningkatan suhu pada kulit dan perdarahan yang lebih banyak jika terjadi sayatan pada kulit wanita dibandingkan dengan kulit pria.
  • Kesetimbangan elektrolit
Estrogen menyebabkan retensi air dan sodium oleh tubulus-tubulus ginjal.
Progestin
 
Progestin terpenting adalah progesteron. Pada wanita yang sedang tidak hamil, progesteron diproduksi oleh korpus luteum pada paruh terakhir siklus ovarium. Fungsi progesteron berdasarkan organ yang dipengaruhinya adalah:
  • Uterus
 
Fungsi terpenting progesteron adalah meningkatkan perubahan sekretorik pada endometrium uterin selama paruh akhir siklus seksual sehingga mempersiapkan uterus untuk implantasi ovum. Selain itu progesteron juga mengurangi frekuensi dan intensitas kontraksi uterine, sehingga dengan demikian mengurangi risiko terjadinya peluruhan ovum yang telah diimplantasi.
  • Tuba fallopi
Progesteron meningkatkan sekresi lapisan mukosa yang ada pada tuba fallopi. Sekresi ini diperlukan untuk nutrisi ovum yang telah difertilisasi sebelum mengalami implantasi.
  • Kelenjar payudara
Progesteron memicu perkembangan lobulus dan alveoli pada payudara, menyebabkan sel-sel alveolar berproliferasi, membesar, dan menjadi sekretorik. Namun progesteron tidak berperan dalam sekresi ASI.
Progesteron juga menyebabkan pembesaran kelenjar payudara karena peningkatan cairan di jaringan subkutan.
4. Hormon lain
Selain dari hormon yang sudah disebutkan di atas, terdapat hormon lain yang juga berperan dalam pubertas. Namun tidak seperti hormon di atas, hormon lain ini kurang/tidak mempengaruhi perkembangan seks primer dan hanya mempengaruhi perkembangan karakter seks sekunder.
  • Prolaktin
 
Pada perkembangan kelenjar payudara di masa pubertas, hormon estrogen menstimulasi perkembangan duktus sedangkan progesteron merangsang pembentukan lobulus-alveolus. Keduanya tidak ada hubungannya dengan pengeluaran air susu. Maka untuk pengeluaran air susu distimulasi oleh hormon ketiga, prolaktin.
Prolaktin merupakan hormon yang disekresikan oleh hipofisis anterior. Fungsi dari prolaktin adalah menstimulasi ekskresi air susu. Selama paruh pertama kehamilan, kelenjar payudara sebenarnya telah siap untuk memproduksi air susu, namun dihambat oleh estrogen dan progesteron kehamilan. Setelah kehamilan selesai, barulah kelenjar payudara bisa memproduksi air susu.
  • Steroid adrenal
Steroid adrenal dihasilkan di korteks adrenal. Ada tiga hormon steroid adrenal, yaitu (1) mineralkortikoid, terutama aldoseteron, untuk kesetimbangan mineral, (2) glukokortikoid, terutama kortisol, untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, serta (3) hormon seks yang identik dengan yang dihasilkan oleh gonad (ovarium pada wanita).
Pada wanita, hormon seks yang dihasilkan oleh korteks adrenal ialah estrogen. Namun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada estrogen yang dihasilkan di ovarium sehingga tidak terlalu bermakna. Selain itu, di korteks adrenal juga dihasilkan androgen dehidroepiandrosteron (DHEA). Pada pria, DHEA ini tidak bermakna karena dikalahkan oleh testosteron. Namun pada wanita (yang kurang memiliki androgen), DHEA ini memiliki makna fisiologis yaitu pertumbuhan rambut pubis dan aksila, pacu tumbuh pubertas serta perkembangan dan pemeliharaan dorongan seks wanita.
  • Growth hormone (GH)
GH, selain berfungsi sebagai hormon pertumbuhan, juga memiliki efek pada pubertas. GH menstimulasi diferensiasi sel granulosa yang diinduksi oleh FSH, meningkatkan level IGF-1 di ovarium dan meningkatkan respons ovarium terhadap gonadotropin
  • Insulin-like growth factor-1 (IGF-1)
 
IGF-1 meningkatkan efek gonadotropin pada sel granulosa dan bekerja secara sinergis dengan GH untuk maturasi ovarium postmenarche.
  • Insulin
Pada waktu pubertas terjadi lonjakan kadar insulin plasma. Diketahui insulin memiliki korelasi positif kuat dengan IGF-1.
Referensi
  1. Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11th ed. Pennsylvania: Elsevier Inc; 2006. p. 1011-22.
  2. Sheerwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. 2nd ed. Jakarta: EGC; 2001. p. 633-732.
  3. Vander et.al. Human physiology – the mechanism of body function. 8th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2001. p. 681-3.
  4. Ganong WF. Review of medical physiology. 20th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2001. p.505-6.
Sumber : http://sectiocadaveris.wordpress.com

No comments:

Post a Comment

Iklan