Wednesday, April 21, 2010

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan


Sumber:
Dr. Kevin Rusmil, SpA(K), MM
Bab 2 Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Kesehatan Dasar
Departemen Kesehatan RI - Tahun 2006
           1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
                        Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak
kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.

2. Ciri - ciri dan Prinsip - prinsip Tumbuh Kembang Anak.
Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
1). Perkembangan menimbulkan perubahan.
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.

2). Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya.
Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.

3). Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.

4). Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.
5). Perkembangan mempunyai pola yang tetap.
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).
b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).

KONSEP DASAR YANG HARUS DIKUASAI ANAK SEBELUM PEMBELAJARAN BACA-TULIS-HITUNG (CALISTUNG)

Di masa sekarang yang serba instant ini, sering kita jumpai orang tua yang cenderung bangga jika putra-putrinya dapat menguasai baca tulis hitung (calistung) lebih awal. Bahkan tak jarang kita jumpai Taman Kanak-kanak yang sudah mengajarkan untuk membaca dan menulis tanpa mempertimbangkan kemampuan anak. Jika sebelum SD anak mereka belum bisa membaca, tak jarang orang tua memberikan les tambahan membaca kepada putra-putrinya. Semua hal di atas sebetulnya tidaklah menjadi masalah jika sebelum belajar membaca menulis dan berhitung, anak sudah menguasai konsep-konsep dasar (pre-writing & pre reading skill) terlebih dahulu. Contoh yang bagus adalah metode pengajaran Montessori, di mana anak-anak umur 5 tahun sudah menguasai kemampuan membaca dan menulis yang bagus.
Tetapi lain halnya jika anak belum menguasai konsep-konsep dasar tersebut. Tanpa penguasaan kemampuan tersebut, proses pembelajaran membaca dan menulis akan memakan waktu yang lebih lama. Jikapun nanti pada saatnya anak bisa, ia akan dapat membaca tanpa mengetahui arti bacaan, dapat berhitung tanpa tahu makna angka. Yang lebih parah lagi adalah jika hal tersebut berlanjut sampai ke tingkat usia sekolah dasar. Anak akan kesulitan untuk mengikuti pelajaran karena penguasaan pre-reading skill yang lemah.
Berikut adalah beberapa konsep dasar yang harus dikuasai anak dengan baik sebelum ia siap untuk menerima pembelajaran membaca, menulis dan berhitung.
I. WARNA
Sebagai awal pembelajaran, maka anak harus mengenal konsep dasar warna. Di usia 3-4 th minimal anak sudah mengenal 3 warna primer (merah, biru, kuning). Di tahun berikutnya usahakan anak mengenal semua warna baik primer maupun sekunder. Contoh jenis-jenis warna yang lengkap dapat Anda temukan pada produk crayon 44 warna.

II. POLA WARNA
Yang dimaksud pola warna misalnya :
Biru – biru – merah – biru – biru – merah, dst (2 pola)
Biru – merah – merah – biru – merah- merah, dst (2 pola)
Biru – merah – merah – kuning – biru – merah- merah – kuning, dst (3 pola)
Anak-anak usia 3-4 th harus menguasai konsep pola warna minimal 2 pola, menginjak tahun berikutnya usahakan meningkat menjadi 3 pola lalu 4 pola.
Untuk mengenalkan pola warna, Anda dapat membuat alat meronce sederhana untuk anak yang dapat Anda buat sendiri dengan kertas karton warna-warni.
III. BENTUK GEOMETRI DASAR
Bentuk dasar yang dimaksud adalah segitiga, persegi, lingkaran, dan persegi panjang. Jika keempat bentuk sudah dikuasai tingkatkan dengan pengenalan bentuk layang-layang, bintang, bulan sabit, segi lima, segi enam dan bentuk geometris lainnya.


IV. UKURAN, WAKTU, ARAH
Konsep pengukuran di sini sebagai contoh :
• tinggi – rendah (konsep tinggi)
• besar - kecil
• kiri – kanan
• ke atas – ke bawah
• lama–sebentar (konsep waktu)
• cepat - lambat
• panas – dingin (temperatur)
• berat – ringan (berat)
V. POLA BENTUK
Seperti halnya pada pola warna, pada konsep pola bentuk di sini anak harus dapat mengurutkan atau menyusun bentuk-bentuk geometri dengan pola-pola tertentu.
Contoh 3 pola bentuk
lingkaran - segitiga - kotak – lingkaran - segitiga - kotak, dst.
VI. GRADASI
Yang dimaksud gradasi di sini adalah anak harus dapat membandingkan antara dua benda atau lebih, semakin banyak tingkatan gradasi yang dapat ia bandingkan, maka berarti semakin bagus penguasaan konsepnya.
• Warna
Misal : merah tua – merah muda
Merah tua – merah – merah muda
• Bentuk
Misal : lingkaran besar – lingkaran kecil
Lingkaran besar – lingkaran sedang – lingkaran kecil
• Ukuran
Misal : teh panas – teh hangat – teh dingin
VII. SIMBOL – SIMBOL
Penguasaan konsep simbol di sini adalah mengenalkan kepada anak bahwa suatu simbol tertentu dapat mewakili bunyi tertentu. Hal ini sangat penting karena nantinya semua huruf yang ia pelajari adalah simbol-simbol.
Misalnya jika ada nama & logo merk suatu barang, ia akan bisa menyebutkan nama produknya.
Untuk mengajarkan hal ini tidaklah terlalu sulit. Cukup Anda sisihkan bungkus/kemasan barang belanjaan Anda, gunting dan gunakan untuk mainan tebak-tebakan bersama anak. Atau tuliskan nama barang-barang rumah tangga Anda (kursi, meja, lemari), lalu tempelkan pada barang yang sesuai dengan tulisannya.


VIII. ANGKA
Konsep dasar yang dimaksud di sini tidaklah hanya anak sanggup menghitung 1 sampai 10, tetapi lebih dari itu. Jika mengajarkan bilangan 3, maka anak jika diminta mengambil 3 bola, maka ia akan mengambil 3 bola karena ia telah tahu makna dari 3. Demikian juga dengan bilangan yang lebih besar.
IX. KATA
Konsep kata di sini adalah mengenalkan rhyme kepada anak. Misalnya jika Anda menyebut sa maka anak akan bisa menyebut benda-benda atau kata yang dimulai dengan sa misalnya sapi, sate.
A – ayam, abu
B – burung, beruang dst.
Jadi, janganlah tergesa-gesa untuk mengajarkan calistung kepada putra-putri Anda, tanpa yakin bahwa putra-putri Anda telah menguasai konsep-konsep dasar yang telah tersebut di atas. Tetapi jika Anda telah yakin bahwa putra-putri Anda telah siap, tidak ada salahnya mengajarkan kepada mereka, tentu saja dengan syarat, janganlah pengajaran tersebut nantinya akan membebani mereka. Karena yang paling penting, dunia anak adalah dunia bermain. Sampaikan hal-hal di atas dengan menggunakan pengajaran yang menyenangkan.

A. Latar belakang

Sesuai dengan perkembangan jaman yang menuju kearah era globalisasi dalam segala bidang tentunya juga berpengaruh terhadap pola pikir anak usia pra sekolah agar mampu mengantisipasi perubahan jaman yang begitu cepat.
Untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas pola pikir anak pra sekolah diperlukan berbagai tahapan dan metode agar anak tidak merasa terbebani dan tertekan dalam menumbuhkan kreativitasnya.
Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara menyiapkan anak usia pra sekolah mempunyai wawasan dan pola pikir positif dan bagaimana pula peran orang tua, masyarakat dan lembaga-lembaga pendidiakan dalam memumbuhkan pola pikir anak usia pra sekolah yang mandiri dan kreatif serta tahapan-tahapan apa saja yang diperlukan agar tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai.
B. Pembahasan

`Dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan lembaga pendidikan terutama lembaga pendidikan dasar menunjukkan peningkatan yang cukup pesat, terutama lembaga-lembaga pendidikan dasar (kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, TK terpadu Sekolah Dasar Terpadu) yang dikelola oleh berbagai yayasan dengan menawarkan berbagai keunggulan tentunya perlu disambut secara positif. Menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan ini memperlihatkan adanya antusiasme dari masyarakat untuk berperan serta dalam membentuk pribadi yang kuat guna menghadapi perkembangan jaman yang begitu cepat. Hanya saja yang perlu dicermati khususnya orang tua adalah jangan sampai pola pendidikan yang diberikan akan menjadi beban bagi si anak. Untuk itu diperlukan kecermatan dan tahapan-tahapan dalam menumbuhkan anak yang berpola pikir positif, kreatif dan mandiri.
1. Menyiapkan Perkembangan Anak Usia Dini
Telah menjadi anggapan umum bahwa kompleknya permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini akan dapat dipecahkan secara bijak oleh seseorang yang mempunyai kemampuan tinggi. Seorang bijak yang mempunyai kemampuan tinggi tersebut sangat diperlukan guna menghadapi perubahan jaman yang sedemikian pesat sehingga dapat mempersiapkan perkembangan pola pikir anak pra sekolah menjadi lebih baik dan berkualitas.
Sementara itu bagi orang tua pola pikir anak di usia pra sekolah perlu dipersiapkan dengan baik dan matang untuk menyiapkan anak yang tangguh dalam menghadapi perubahan dan tantangan jaman. Sikap ketangguhan ini dapat diperoleh dari mereka yang mempunyai pribadi kuat dan terwujud dalam kemandiriannya, kreativitasnya maupun konsep pola pikir dirinya yang positif.
2. Pembentukan Kemandirian Anak
Kemandirian dapat diartikan sebagai suatu bentuk kepribadian yang terbebas dari sikap ketergantungan. Akan tetapi bukan sebagai person yang tanpa sosialisasi melainkan sebagai suatu kemandirian yang terarah melalui pengaruh lingkungan (orang tua/pendidik) yang postif.
Kemandirian seorang anak menurut Anas Suwarsiyah (1999) akan terwujud dengan kehadiran orang tua terutama seorang ibu terhadap anaknya, terlebih sebelum anak mencapai usia dua tahun. Pada saat ini maternal child bonding (keeratan) dapat terbentuk sehingga dapat menumbuhkan attachment (kelekatan) antara anak dan ibu. Jika bonding sudah terbentuk, secara psikologis akan merasa aman. Dengan adanya rasa aman yang diperoleh melalui bonding dan attachement ibu sebagai figur maka dapat terbentuk kemandirian anak tanpa rasa takut. Mandiri tanpa seorang figur akan menyebabkan beban psikologi, dan anak bisa lari ke figur lain yang mungkin negatif. Contoh, lepas dari orang tua dan lari ke pergaulan dengan teman-teman sebaya yang negatif.
Karenanya dengan adanya rasa aman anak tahu dan yakin bahwa masih ada orang yang dekat dengan dirinya. Sehingga terbentuklah pribadi yang mandiri yang peduli pada orang lain.
3. Pembentukan Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta sesuatu yang baru. Setiap orang pada dasarnya mempunyai potensi kreatif, meskipun berbeda-beda.
Dekemukakan oleh Dedy Supriadi (1994) bahwa potensi/daya kreatif perlu dikenalkan dan dikembangkan sedini mungkin dan agar daya kreativitas dapat berkembang, maka diperlukan lingkungan yang mendukung. Rumah, sekolah dan masyarakat perlu memberikan kesempatan pada anak untuk bersibuk diri secara kreatif. Kesempatan ini dapat terwujud bila terdapat stimulasi yang bersifat lentur, misalnya mainan-mainan setengah jadi, mainan konstruktif yang dapat dibentuk anak sesuai dengan kemampuan dan daya kreativitasnya.
Kreativitas juga dapat dilihat sebagai suatu bentuk pemikiran atau ide-ide. Berpikir kreatif dapat dilatihkan dengan tidak hanya mengajarkan untuk mencari satu jawaban terhadap suatu persoalan. Biasakan anak berfikir ke macam-macam arah serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah (Solehuddin, 1997).
Disamping melatih berfikir kreatif, perlu dipupuk sikap kreatif, seperti melihat permasalahan sebagai tantangan untuk dipecahkan, bersifat ingin tahu, tidak takut membuat kesalahan, berani mengambil resiko, dan hal-hal lain yang sekiranya perlu pemikiran lebih kreatif.
Hal tersebut di atas bisa dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan tempat-tempat pendidikan dasar seperti kelompok bermain, Taman kanak-kanak dan tempat-tempat penitipan anak.
Orang tua juga sangat berperan dalam menumbuhkan daya kreativitas anak dan diharapkan mampu memberikan contoh-contoh atau sebagai modelling bagi anak, juga memberikan kesempatan dan kebebasan anak dalam bertindak sehingga anak terbebas dari rasa takut untuk mencoba ataupun bertanya.
4. Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri dapat diartikan sebagai gambaran ataupun penilaian terhadap dirinya sendiri. Konsep diri bukan merupakan bawaan akan tetapi terbentuk pada diri individu melalui pengalaman-pengalaman positif misalkan keberhasilan-keberhasilan yang pernah dicapainya ataupun melalui penilaian lingkungan terhadap dirinya.
Mengingat konsep diri sebagai kondisi psikis yang dapat dipelajari maka konsep diri dapat dibentuk sedini mungkin dan tentu saja akan berkembang sesuai dengan pertambahan umurnya. Konsep diri selain ditentukan oleh penilaian lingkungan terhadap dirinya juga ditentukan oleh keberhasilan yang pernah dicapai individu. Orang yang mempunyai konsep diri positif biasanya akan lebih yakin akan kemampuannya dan dapat mendukung keberhasilan terhadap target yang telah ditentukan. Sebaliknya anak yang mempunyai konsep diri negatif biasanya akan selalu ragu terhadap kemampuannya sehingga akan berpengaruh negatif pula dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada. Pembentukan konsep diri tidak terlepas dari peran keluarga (orang tua ataupun peran pendidikan). Oleh karena konsep diri terbentuk melalui penilaian lingkungan terhadap individu dan juga terbentuk melalui pengalaman-pengalaman, kegagalan-kegagalan ataupun keberhasilan-keberhasilannya, maka orang tua maupun pendidik sebaiknya mampu mengantisipasi kemampuan anak didiknya. Untuk itu pendidik maupun orang tua harus dapat memberikan stimulasi yang sesuai dengan tingkat kemampuannya, sehingga dapat mengurangi kegagalan yang akan terjadi dan dapat mengakibatkan anak menjadi rendah diri sehingga terbentuk konsep diri yang negatif.


C. Kesimpulan

Menumbuhkan kemandirian anak, kreativitas dan Pola pikir anak pra sekolah sebagai pondasi utama dalam mendidik anak sangat diperlukan agar anak mempunyai kualitas yang lebih pada masa mendatang.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Untuk menyiapkan perkembangan anak pra sekolah diperlukan orang yang mempunyai kemampuan tinggi dan orang tua untuk membentuk anak menjadi pribadi yang kuat, mandiri dan mempunyai konsep daya krativitas yang positip.
2. Dalam membentuk kemandirian anak diperlukan pribadi yang terbebas dari rasa ketergantungan dalam arti anak mempunyai rasa aman dan yakin bahwa masih ada orang yang dekat dengan dirinya sehingga terbentuklah pribadi yang mandiri dan peduli pada orang lain.
3. Anak perlu dilatih untuk berfikir lebih kreatif seperti melihat permasalahan sebagai tantangan unntuk dipecahkan, bersifat ingin tahu dan tidak takut membuat kesalahan serta berani mengambil resiko.
4. Dalam membentuk pola pikir anak usia pra sekolah diperlukan stimulus-stiimulus yang bersifat positif melalui berbagai pengalaman-pengalaman positif agar konsep diri dapat terbentuk kepada masing-masing individu.
D. Penutup

Berangkat dari pemikiran di atas maka dalam menghadapi era globalisasi dan perubahan jaman yang pesat ini, diperlukan mempersiapkan anak menjadi anak yang kreatif, mandiri serta mempunyai konsep diri yang positif pada usia pra sekolah agar dapat menjadi pondasi yang kuat dalam pengembangan pribadi pada tahap berikutnya. Utuk mendapatkan itu semua peran keluarga terutama orang tua (ibu) serta pendidik sangatlah penting. Dengan demikian perlu kiranya orang tua maupun pendidik secara bijak mensikapi dan mempersiapkan diri baik segi ilmu pengetahuan, ketrampilan serta adanya kedekatan orang tua dengan anak sehingga mampu menjadi suri tauladan bagi perilaku anak serta menimbulkan rasa aman bagi anak. Rasa aman akan menyebabkan anak berani bertindak, bereksplorasi, timbul rasa ingin tahu dan yakin akan kemampuannya.
Berdasarkan uraian di atas maka untuk membekali anak dalam menyongsong hari depannya tidak perlu anak dijejali dengan hal-hal yang akan membebani anak, akan tetapi cukup dari memberikan pengertian-pengertian tentang lingkungannya terutama masyarakat, orang tua dan lingkungan pendidikannya.
Untuk anak usia pra sekolah dapat pula dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan sesuai dengan tingkat perkembangan umurnya dan orang tua tentunya harus mampu mendampingi anak dengan baik agar anak dapat berkembang secara optimal.





DAFTAR PUSTAKA

Anas Suwarsiyah, 1999. Menumbuhkan kemandirian anak, kreativitas dan konsep diri yang sehat anak usia dini; Sebuah Tinjauan, UII Yogyakarta.
Aswarni Sudjud, 1996. Konsep Pendidikan Prasekolah, Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Dedi Supriadi, 1994. Kreativitas, Kebudayaan dan perkembangan IPTEK, Bandung , Alfabeta.
M. Solehuddin, 1997. Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Bandung: FIP IKIP Bandung.

1 comment:

Iklan