Monday, March 29, 2010

Sketsa Biografi Kyai Asnawi

Sketsa Biografi Kyai Asnawi
(1861-1959 M/1281-1379 H)
persaingan ekonomi Cina dan Islam, Asnawi tampil dengan tegas bergelut dengan organisasi perekonomian. Yang seperti ini bertujuan agar orang Islam tidak goyah dengan ekonomi atau bisnis versi Islam. Padahal jarang sekali sosok Kyai yang mau terjun di bidang bisnis sebab khawatir dianggap gila harta. Lalu model seperti itu apakah ada keterkaitan antara Asnawi dengan Sunan Kudus?
Sebagaimana ditulis oleh Minan Zuhri bahwa Asnawi merupakan Asnawi merupakan keturunan dari Sunan Kudus yang ke-14 dan keturunan ke-5 dari KH. Ahmad Mutamakin Wali di zaman Sultan Agung Mataram dimakamkan di Kajen Margoyoso Pati. WaPada kisaran tahun 1861 M (1281 H) di daerah Damaran lahir seorang jabang bayi yang diberi nama Raden Ahmad Syamsyi.Putra dari pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah ini lahir di sebuah rumah milik Mbah Sulangsih. Kelahiran anak pertama bagi sepasang keluarga baru menjadi satu keharuan dan dambaan yang sangat tiada nilainya. Apalagi bayi itu laki-laki yang telah diharap dapat melanjutkan kiprah orang tua. Rasa syukur yang dirasakan tidak sekedar diucapkan. semuanya sebagai bukti terima kasih pada sang pencipta alam atas anugerahnya.
Tempat tinggal mbah Sulangm begitu ia akrab disapa menjadi ramai didatangi oleh sanak saudara dan tetangga sekitar lantaran kelahiran anak mbarep. Sudah menjadi tradisi masyarakat Kudus Kulon, setiap ada babaran(melahirkan bayi), tetangga ikut merasakan bahagia dengan menjenguk ibu dan anak yang dilahirkan. Tradisi semacam ini sudah dimulai semenjak nenek moyang. Kedatangan tamu untuk menengok bayi biasanya diikuti dengan tentengan(bawaan) berupa gula, teh dan kebutuhan dapur lainnya. setelah mereka pulang, tuan rumah juga membalasnya dengan hadiah berupa makanan, masyarakat menyebut dengan balen.
Tanggal dan bulan yang pasti kelahirannya tidak diketahui, yang jelas hari lahirnya adalah seingat KH. Minan Zuhri adalah Jum’at Pon. H. Abdullah Husnin terkenal seorang pedagang konfeksi yang tergolong besar. Memang sudah menjadi hal yang lumrah, rata-rata penduduk di desa ini mempunyai penggautan(kerja) di bidang konfeksi. Mata pencaharian konfeksi sampai sekarang juga masih banyak ditekuni penduduk Damaran. Potensi ekonomi masyarakatnya mengandalkan kreatifitas memproduksi kain menjadi pakain, kerudung, rukuh, dan lain sebagainya.


Sebagai orang tua, Abdullah Husnin menginginkan kelak anaknya nanti pandai dalam bidang agama dan piawai dalam berdagang. Ikhtiar mewujudkan anak yang sholeh ditempuhnya dengan mengenalkan huruf-huruf Arab kepada Syamsyi. Huruf-huruf Arab ini biasanya diajarkan untuk memulai belajar al Qur’an. Husnin menyempatkan diri mendidik putranya belajar Al-Qur’an mulai kecil hingga menginjak dewasa. Awal pengajaran Al-Qur’an dimulai dengan alip, ba, ta(alif, ba’, ta’) dan seterusnya hingga mahir mambaca. Sebab di Damaran, syarat orang hidup sempurna dalam masyarakat beragama Islam adalah dilihat dari kemahiran baca Al-Qur’an.
Harapan orang tuanya dilanjutkan dengan mendidik Syamsyi berdagang semenjak usia 15 tahun. Sekitar tahun 1876 orang tuanya memboyong ke Tulung Agung Jawa Timur. Disana Husnin mengajari anaknya berdagang pagi hingga siang. Sedangkan waktu luang yang cukup panjang tidak ingin disia-siakan oleh anaknya yang masih muda belia. Keinginannya mencetak putra sholih mengantarkan Husnin untuk mengikutsertakan Syamsi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulung Agung. Waktu mengaji adalah sepulang dari berdagang mulai sore hingga malam. Tidak diketahui apa kitab yang ditekuni kala itu.
Cukup asing sekali nama Raden Ahmad Syamsi, bahkan jarang sekali orang Kudus mengenalnya. Syamsi inilah yang kelak menjadi terkenal dengan nama KH. Raden Asnawi. Semasa hidupnya tercatat tiga kali berganti nama. Ahmad Syamsi dipakai mulai lahir hingga umur 25 tahun. Sepulangnya dari haji pertama pada tahun 1886, namanya diganti dengan Raden Haji Ilyas.Pergantian nama sepulang dari tanah suci sudah menjadi hal yang wajar.
Nama Ilyas juga tidak menjadi nama hingga wafatnya, tetapi nama itu diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi,setelah pulang haji ketiga. Selanjutnya nama Asnawi ini yang menjadi terkenal dalam pengembanagan Ahlussunnah Waljama’ahdi Kudus. Dari sinilah kharismanya muncul dan masyarakat memanggilnya dengan sebutan Kiai. Sehingga nama harum yang dikenal masyarakat luas menyebut dengan Kiai Haji Raden Asnawi (KH. R. Asnawi).
Dalam memperjuangkan Islam, KH. R. Asnawi memiliki pendirian yang teguh. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangnnya terkenal galak.Sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan kaum kafir. Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bahkan tidak segan-segan KH. R. Asnawi memproduk hukum agama yang sangat tegas. Segala bentuk tasyabbuhatas kolonial diharamkan, entah itu gaya berjalannya, berdasi atau menghidupkan radio.
Kehidupan beliau dihabiskan untuk menegakkan Islam. Perjuangannya disertai dengan kerelaan dan keteguhan jiwa. Lebih dari itu seperti dituturkan KH Abdurrahman Wahid, bahwa R. Asnawi adalah ulama’ dari desa yang didasari kejujuran dan terbuka dalam memimpin bangsa, selain itu KH. R. Asnawi menurut Gus Dur mengikat dirinya dengan etika (ahlaq al karimah). Dengan itu nama besarnya banyak dikenang oleh masyarakat. Kiprah dalam bidang agama ditempuh dengan dakwah ke berbagai daerah: Kudus, Jepara, Demak, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu dan Blora. Begitu pula KH. R. Asnawi aktif dalam pertemuan-pertemuan ulama’ nasional mulai tahun 1926-1956. Setelah pulang dari Makkah, di Haramain saat bermukim, KH. R. Asnawi juga tidak pernah ketinggalan dalam forum-forum diskusi keagamaan. Diskusi bidang agama sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Umur yang diberikan Allah tidaklah sama yang diharapkan masyarakat. Masyarakat dan umat Islam pada umumnya mengharap agar para Kyai dipanjangkan umurnya dan diberkahi kesehatannya. Tujuannya tiada lain mendampingi dan menata infrastruktur masyarakat dalam memegang subtansi ajaran agama. Namun Allah telah menghendaki terlebih dahulu memanggil KH. R. Asnawi menghadap keharibaannya.
Wafatnya ulama’ besar di Kudus ini tidak terduga. Sebab satu minggu sebelum wafatnya KH. R. Asnawi masih bermusyawarah dalam muktamar NU XII di Jakarta. Bersama dengan para Kyai NU se-Indonesia, KH. R. Asnawi masih nampak segar bugar. Dikisahkan oleh KH. Minan Zuhri, selama berlangsungnya muktamar, Asnawi menginap di rumah H. Zen Muhammad adik kandung K.H. Mustain di Jalan H. Agus Salim Jakarta. Muktamar yang digelar pada tanggal 12-18 Desember 1959 merupakan muktamar terakhir yang dihadirinya. Mustain yang setia mengantar-jemput KH. R. Asnawi selama berjalannya muktamar dari rumah adiknya sempat tertegun. Pasalnya, saat menjemput beliau untuk menghadiri pembukaan Muktamar yang dihadiri Bung Karno, Mustain mendengarkan kalimat aneh dari KH. R. Asnawi: “Hai Mustain ! inilah yang merupakan terakhir kehadiranku dalam muktamar NU, mengingat keadaanku dan kekuatan badanku.” Tercenganglah Mustain mendengar perkataan itu. Spontan Mustain menyambung pembicaraan dengan mengatakan; “Kalau Kyai tidak dapat hadir dalam muktamar, maka sangat kami harapkan do’anya.”
Kemungkinan besar Asnawi telah mengetahui akan tanda-tanda panggilan Allah untuk memanggil dirinya. Pukul 02.30 WIB Sabtu itu Asnawi bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya untuk mengambil air wudlu. Setelah dari kamar mandi Asnawi dengan didampingi istrinya Hamdanah kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya semakin tidak berdaya. Dan kalimat syahadat adalah kalimat terakhir yang mengantarkan arwahnya. Waktu itu juga 26 Desember 1959 M/25 Jumadil Akhir 1379 H sekitar pukul 03.00 fajar, KH. R. Asnawi pulang ke rahmatullah.
Kudus berkabung ditinggalkan ulama’ besar yanga setia mendampingi kejayaan Islam ala Ahlussunah Wal Jama’ah. Pada usia 98 tahun KH. R. Asnawi meninggalkan para keluarga dan santrinya. Kesedihan tidak hanya pada masyarakat Kudus, semua Kyai di Indonesia turut menyatakan duka kepada kyai kritis asal Kudus yang beberapa waktu lalu masih sempat kumpul di Jakarta. Khabar wafatnya KH.R Asnawi disiarkan di RRI pusat Jakarta lewat berita pagi pukul 06.00. Penyiaran itu atas inisiataif Menteri Agama RI KH Wahab Hasbullah yang di-calllingH. M Zainuri Noor.
Ribuan umat Islam memadati rumah duka untuk ta’ziyahsebagai penghormatan akhir kepada almarhum. Keluarga, murid dan masyarakat tumplek blekdi rumah duka. Isap tangis dan dengung bacaaan tahlil mengiringi kesedihan muazziyyin. Dikisahkan oleh Minan Zuhri, halaman rumah duka mulai jam 04.00 waktu itu sudah penuh dengan tamu. Jenazah diberangkatkan dari rumah jam 16.30. Sebelumnya mulai jam 14.00 hingga jam 16.00 shalat jenazah dilaksanakan secara bergantian.
Keranda (cekatil)yang diusung dari rumah setelah selesai upacara pamitanmenjadi rebutan para pelayat. Layaknya keranda yang ditempati mayat hanya digendong empat orang saja. Namun keranda pengangkat jenazah KH. R. Asnawi tidak begitu. Keranda dengan lurup hijau bertuliskan kalimat tahlil dengan dililiti kembang nampak berjalan sendiri. Pengusung keranda juga tidak terhitung dan saling silih berganti. Semua pelayat punya hasrat untuk menghormati Kyai dengan turut serta memanggul keranda. Keadaaan seperti itu semakin menjadikan keranda sulit berjalan dengan lancar. Sesekali bergoyang ke kanan dan ke kiri serta naik turun karena gonta–gantipemanggul. Begitu seterusnya sampai di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Setelah dilaksanakan solat jenazah, keranda yang sebelumnya juga dilewatkan dua pintu kembar tidak mungkin kembali melewati rute seperti biasa .
Umumnya, setelah selesai shalat jenazah, rute yang ditempuh adalah kembali ke arah timur dari pengimaman dan kembali menyusup dua pintu kembar dan baru menuju ke pemakaman. Namun hal ini nampak aneh. Seusai shalat, keranda langsung diturunkan lewat jendela Masjid Menara dan diterima pengusung lainnya di bawah. Hal ini untuk menghindari terjadinya rebutankeranda seperti sebelumnya. Di samping itu pula maqbaroh-nya juga berada tepat berada di sebelah barat mihrab masjid. Tempat pemakaman di belakang pengimaman ini merupakan amanat almarhum sebelum meninggal dunia.
Sampai sekarang makam KH. R. Asnawi masih banyak dikunjungi oleh para peziarah. Di atas sebidang tanah satu komplek dengan makam Sunan Kudus, KH. R. Asnawi menempati persinggahan terakhir. Batu nisan dan bangunan kijing setinggi 50 cm bercat hijau menjadi saksi sejarah. Di sebelah barat kijingan tertempel monel bertuliskan: Makam KH. R. Asnawi lengkap dengan hari dan tanggal wafat, baik hijriyyah maupun miladiyyah.
Untuk mengenang tahun wafat Kiai Asnawi, KH. Turaihan Adjhuri—tokoh falak terkenal—membuat kalimat عش غط :Hiduplah engkau (Mbah Asnawi) dan lindungilah kami. Hitungan abajadun dari kalimat tetenger itu berjumlah 1379. ‘ain = 70, syin = 300, ghin = 1000 dan tha’ = 9.Di sinilah akhir perjuangan praktisnya berakhir. Namun jasa-jasanya sampai sekarang masih dapat terasa. KH. Sya’roni Ahmadi menyebutkan bahwa penisun (baca: tutup usia) KH. R. Asnawi sudah komplit. Tiga aspek yang menjadi tumpuan hitungan manusia yang telah meninggal dunia dan masih mendapatkan pahala dalam kehidupan Asnawi telah terpenuhi. Mulai dari shadaqoh(amal jariah), ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh. Amal jariyah terlihat dengan pendirian Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin (nglestreniPondok pada tanggal 29 Rabiul Awal 1345 H/26 September 1927 M) dan Madrasah Qudsiyyah (berdiri 1919 M). Ilmu yang manfaat dapat disaksikan dengan keberhasilannya mencetak generasi muslim yang tangguh dengan bekal ilmu-ilmu agama. Dan anak shaleh juga tampak dengan tampilnya anak-putusebagai tokoh masyarakat menggantikan mbahAsnawi.
Banyak sekali pengaruh perjuangan KH. R. Asnawi yang masih terasa hingga sekarang. Kiprahnya di tengah-tengah masyarakat tampil dengan anggun dan memukau, untuk itulah dibutuhkan keterangan yang lebih jauh tentang siapa sejatinya beliau. Lebih jauh dari itu jasanya dalam memperteguh ajaran Islam juga tidak tanggung. Sampai-sampai dalam sebuah pertemuan dengan beberapa Kyai di Jawa Timur terdapat konsensus, Kyai dilarang untuk bekerja. Alasan ini diambil karena kondisi selain diancam kecamuk penjajahan oleh Belanda, Islam juga sudah mulai dirongrong dengan bentuk-bentuk modernitas yang membombardir tradisi. Keadaan semacam ini memaksa kepada Kyai untuk kerja ekstra membendung arus penghapusan nilai Sunniah yang selama ini dipegang teguh akibat datangnya kelompk wahabi yang sangat mengedepankan prinsip akal.
Tentang sejarah panjang kepiawaian KH. R. Asnawi dapat dibaca dalam Riwayat Hidup KH. R. Asnawi karya KH. Minan Zuhri dalam majalah El-Wijah,1982, The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachingsebuah disertasi UCLA Amerika Serikat tahun 1997 karya Dr. Abdurrahman Mas’ud, MA dan Karisma Ulama: Kehidupan Ringkas 26 TokohNU buku terbitan Mizan Bandung tahun 1998 yang diedit oleh Saifullah Ma’shum.
Menyangkut genetika para kyai pemangku agama Islam tidak dapat dijauhkan dari para nenek moyang pendahulunya. Adagium Jawa mengatakan, “anak macan metu macan” (orang besar melahirkan orang besar). Lalu siapa Asnawi sebenarnya?
Garis Keturunan Hingga Nabi Muhammad
Nama besar yang di sandang oleh KH. R Asnawi nampaknya membawa pertanyanan yang cukup besar. Dari mana dan siapa dia sebenarnya? Keharuman nama pejuang Islam sekelas Sunan Kudus ternyata banyak menelurkan generasi-generasi yang tangguh. Kedudukannya sebagai Sunan ketika itu dimanfaatkan untuk benar-benar mengibarkan bendera Islam ditengah kondisi ortodoksi masyarakat yang terhegemoni oleh agama Hindu, sehingga rekrutmen Islam ditempuh secara gradual dan defensif .
Upaya menengok motif pengajakan masuk ke dalam Islam oleh Asnawi juga hampir sama dengan apa yang dilakukan Sayid Ja’far Shodiq. Misalnya di tengah hingar bingarnyajar saja apabila yang dilaksanakan olehnya tidak jauh beda dari para pendahulunya. Baik dari pola pendidikan dan dimensi penegakan reputasi agama Islam.
Nama Asnawi yang dimiliki sebelumnya adalah Ahmad Syamsi dan Ilyas bisa saja tabarrukandengan buyut-nya. Begitu pula nama Ilyas yang juga sama dengan nama wareng-nya. Sedangkan kompetensi dalam bidang agama dalam masyarakat dan juga kewibawaan yang dimilikinya menjadikan ia dipanggil Kyai. Sebutan Kyai di Jawa merupakan panggilan untuk ahli agama Islam atau pengasuh pondok pesantren.
Perannya adalah memimpin laju keagamaan ke arah pemberdayaan umat. Kalau ditinjau dari partisipasi Asnawi berhubungan dengan masyarakat, predikat Kyai yang diberikan masyarakat dipandang dari dua sisi. Pertama, Asnawi memang seorang yang ahli bidang fiqih dan benar-benar ahli dalam bidang agama. Kedua,Asnawi adalah pemangku dan pengasuh pondok pesantren sekaligus sebagai pemimpin agama. KH. R. Asnawi tidak mau menjauh dari kebutuhan umat. Bahkan ia terkenal sangat memiliki sifat marhamah. Wibawanya besar, galak, keras dalam menetukan hukum tapi humanis lebih-lebih terhadap anak-anak seusia 4-6 tahun.
Tawadlu’ dan tidak sombong memang menjadi watak KH. R. Asnawi semenjak kecil. Sehingga dalam wasiatnya pun ia mengingatkan kepada anak-anaknya untuk tidak bersifat takabburyang menurutnya dibatasi dalam tiga hal: menojolkan nasab, menonjolkan ilmu pengetahuan, dan mengedepankan harta benda. Garis keturunan inilah yang membayang-bayangi keluarganya dan untuk selalu hati-hati dalam menjaga nasab. Bahkan sumber dari Kajen mengatakan bahwa ada larangan untuk menunjukkan silsilah kepada selain saudara yang satu nasab.
Peran KH. R. Asnawi itu tertulis seperti yang dilayangkan dalam catatan Minan Zuhri pada tanggal 20 syawal 1471 H/ 28 Februari 1997 M. ia telah berhasil menghimpun dan menata secara rapi silsilah keturunan KH. R. Asnawi sepuh (buyut KH R Asnawi) lengkap hinga anak cucu dan jalur ke atasnya hingga Sunan Kudus dan KH Ahmad Mutamakkin. Dalam lampiran itu juga disampaikan sembilan wasiat Raden Asnawi dengan bahasa Jawa diantaranya dalam bentuk syair itu adalah :
Ngelingi nasab lan silsilah # terkadang bener terkadang salah
Iku keliru ojo bok tiru # ngeduhno nasab lakune saru
wongkang mengkono bodo lan kumrung # bingung dakweruh maring delanggung
“Mengingat nasab dan silsilah terkadang bisa benar dan bisa saja salah,
salah jangan dianut, menonjolkan garis keturunan tidak seyogyanya dilakukan.
Orang tersebut tergolong bodoh dan bloonseperti orang bingung tidak tahu jalan”.
WarningKyai itu patut dimengerti jangan sampai keturunannya menjadi besar kepala hanya garis keturunan keluarga. Di sini lain makna filosofisnya, KH. R. Asnawi berkehendak agar anak keturunanya mengedepankan ilmu pengetahuan. Nilai kandungan edukatif ini sama seperti potongan hadits yang artinya, ilmu didapat tidak karena nasab tapi Innama al-ilmu bi al-ta’allum;ilmu akan didapatkan hanya dengan belajar.
Cinta kepada ilmu bagi KH. R. Asnawi adalah hal yang utama. Di sinilah keluarga dan santri-santrinya diingatkan kembali dengan tuturannya: “Yen bodo kenane lungo, Yen pangkat kenane minggat, lan yen ilmu kuwi bakale ketemu”(bodoh itu dapat dihilangkan, pangkat juga mudah dicopot, tapi ilmu akan ditemukan).
Silsilah yang dihimpun oleh Minan Zuhri didapatkannya dari sanak keluarga dan beberapa catatan-catatan yang dimilikinya. Garis keturunan Sunan Kudus dan KH. Ahmad Mutamakkin adalah semuanya dari bapaknya H. Abdullah Husain, Abdullah Husain adalah putera dari Raden Ayu Shofiyah. Raden Ayu Shofiyah ini adalah putri dari perkawinan K. Asnawi Sepuh yang berasal dari Kajen Margoyoso Pati dan Raden Nganten Salamah Kudus. Jadi keturunan Sunan Kudus yang dimiliki Asnawi berasal dari Mbah Buyut Putri. Sedangkan keturunan KH. Ahmad Mutamakkin adalah dari Mbah Buyut Putra. Keturunan Asnawi sepuh inilah yang akhirnya banyak melahirkan para Kyai lain di Kudus, seperti KH. Ahmad Kamal dan KH. Turaihan Adjhuri.
Untuk silsilah lengkap adalah Kyai Asnawi Sepuh bin Nyai Ageng Jirah anak dari Nyahi Ageng Alfiyah Ilyas bin Kyai Ahmad Mutamakkin bin Raden Sumahadi Negoro bin Raden Sumahadi Ningrat bin Sultan Hadiwijaya. Sedangkan silsilah Raden Salamah binti Raden Puspo Kusumo bin Raden Dipoyudo bin Raden Ngabehi Condro Taruno bin Pangeran Pendamaran II bin Pangeran Pendamaran I bin Pangeran Penjaringan bin Pangeran Gemiring bin Panembahan Palembang bin Assayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) begitulah pertalian nasab yang berhasil di himpun oleh Minan Zuhri .
Penulis menganggap perlu melengkapi silsilah yang didokumentasikan keluarga ini, kalau di sini disebutkan Sunan Kudus dan Ahmad Mutamakkin’ maka kita juga tidak dapat menafikan bahwa Sunan Kudus dan KH. Mutamakkin punya keturunan hingga Nabi Muhammad. Untuk berangkat menuju kearah situ, silsilah Sunan Kudus yang dimbil dari catatan Abu Maimun Muhammad Sa’dullah Ibnu Rusyani M. Qudsyy (1411 H) adalah terhitung 25 hingga Nabi Muhammad. Dan Silsilah Mutamakkin hingga Nabi Muhammad terhitung 27. Hasil yang didapatkan keduanya sama hanya sampai turunan ke 16 (Muhammad Shohib Mirbath) setelah itu nama-nama beda, silsilah yang sama adalah Muhammad Sohib Mirbath bin Ali Bin Mawi Bin Ubaidillah ibn Ahmad Muhajir bin Isa bin Bisri bin Muhammad Ali Nuqoib bin Ali Arodli bin Ja’far Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin ibn Assayyid Husain bin Fatimah Az Zahro binti Muhammad SAW.
Perbedaan sanak saudara yang putus pada Muhammad Sohib Mirbath pada hitungan tali persaudaraan ke bawah yang berbeda. K. Asnawi sepuh sampai pada Nabi Muhammad sambung keturunan ke-33 dan Raden Nganten Salamah lebih banyak ketimbang suaminya (turunan ke-35). Jadi KH. R. Asnawi boleh dikatakan mempunyai garis keturunan Nabi Muhammad ke–38 dari Asnawi Sepuh dan garis ke-38 dari Nganten Salamah.
Yang dimaksudkan persambungan Ja’far Shodiq hingga Muhammad Shohib Mirbath adalah Ja’far Shodiq bin Utsman Haji bin Juru Panditha bin Ibrahim As-Samarqondhi bin Jamaluddin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Aminul Faqih. Untuk Mutamakkin sendiri adalah Sumahadi Wijaya (Mutamakkin) bin Sumahadi Negara Sumahadiningrat ibn Abudrrahman bin Umar bin Muhammad bin Ahmad ibn Abu Bakar Basyiban bin Muhammad Asadullah bin Hasan al-Turabi bin Ali bin Muhammad Faqih al- Muqoddam bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbat.
Syi’ir Nasehat Sufistik KH. R. Asnawi
Banyak hal yang belum sempat diangkat ke permukaan persoalan uswatun hasanahyang dicontohkan oleh KH. R. Asnawi. Enam puluh dua (62) butir syi’ir nasihat yang ditulisnya sungguh mempunyai arti besar bagi penataan moralitas umat Islam. Dalam bait-baitnya yang memakai bahasa Jawa dan tulisan pegon secara hermeneutik mengandung advisyang sangat bermakna bagi generasi penerusnya. Sesungguhnya hal ini didasarkan atas kepedulian seorang Kyai dalam ngemongsantrinya. Sehingga disinilah nampak sifat KH. R. Asnawi yang selalu memperhatikan nasib umat Islam di dunia dan akhirat. Bait syi’ir itu diawali dengan:
فورواني تمبـاغ اران شغيران # اســماني الله كوستي فغيران
فغالم باناموغكوه حقيقــه # كـدوي الله كاغ فاريغ نعمه
Pembuka syi’ir telah memberikan petunjuk yang cukup kuat bahwa dalam mengawali sesuatu hendaknya dibuka dengan hamdalah. Sebuah ajaran sunni yang dipertahankan oleh Kiai dan mengajarkan pada seluruh umatnya agar itu semua dijalankan. Lebih dari itui sya’ir selanjutnya banyak menggunakan bahasa metamorfosis. Dalam istilah balaghoh, KH. R. Asnawi memakai majaz isti’arah untuk menghiasi syair yang dikarangnya. Pesan nasihat inilah yang dianggap sebagai pesan sufistik. Kesan tasawwuf yang diantarkanya banyak didominasi dengan advis yang sifatnya penataan akhlaqul karimah. Sehingga walaupun KH. R. Asnawi tidak terjun langsung dalam dunia tasawwuf, ia sudah nampak melakukan sufi akhlaqi.
Ditinjau dari prilaku keseharian (amaliyah) banyak hal yang sudah nampak dengan kecenderungan sisat kesufiannya. Dalam sebuah terminologi ilmu tasawwuh dikenal dengan tasawwuf amali. Dapat digariskan bahwa model tasawwuf yang dilaksanakan oleh beliau adalah dengan pola ini. Selain amaliyahnya, beliau sangat sering memberikan nasihatnya dengan gaya penyair seperi Jalaluddin Rumi dan Rabio’ah Adawiyah. Maka penulis menyebut syi’ir ini dengan langgam syi’ir sufistik.
Pesan yang menggunakan sebuah majas adalah dengan melantunkan: Contone koyo uwite mawar arum kembange ba’dane mekar, sekehe irung kepengen ngambung amunda-munda akeh wong gandrung, maring asale podo nyingkiro kuatir maring kecekrek eri. Sebuah peristilahan yang sangat mengesankan bagi orang yang menghendaki dihargai oleh orang lain. Selain berbekal dengan ilmu, seorang muslim tidak patut untuk menyombongkan dirinya sendiri, sebab itu akan mengakibatkan hal yang fatal. Sebagai seorang Kyai, ia punya kewajiban untuk mengajarkan prinsip kerendahan hati. Semua santrinya sering diingatkan dalam setiap kesempatan untuk tidak berbangga diri dan terlalu sombong.
Pada akhir btir nasihatnya itu beliau memesankan untuk tidakl menjalankan kema’shiyatan:
اغ كيني رامفوغ توتور واصيه# اخيري مكاس اجامعصيـه
Penutup washiyat beliau secara tegas menggunakan kalimat nahi (larangan) untuk tidak melakukan kema’shiyatan. Ilustrasi epilog yang dapat ditangkap dengan cermat bahwa kema’siyatan merupakan satu hal yang betul-betul diucitrakan negatif. Sehingga unsur negatifitas selayaknya dijauhi dalam kerangka norma keagamaan.

Nasionalisme Religius
KH. Asnawi sangat dikenal dengan keteguhannya membendung arus kolonialisme Belanda. Segala apa yang dilaksanakan oleh Belanda baginya tidak boleh ditiru. Sehingga banyak sekali produk hukum fiqih pada masa penjajahan ini, KH. Asnawi selalu mengedepankan prionsip tegas anti-kolonialisme.
Kemauan keras beliau agar Islam tetap eksis tanpa campur tangan penjajah kafir ini sudah menjadi pertaruhan jkiwa dan raganya. Untuk mencapai kemerdekaan itu seluruh kekuatan Indonesia dihadapkan pada sebuah perjuangan yang sehat. Perjuangan masing-masing kekuatan memang memiliki versi yang berbeda. Kekuatan tentara akan memainkan perang sebagai pertahanan dengan peluru dan sentaja. Sementara rakyat biasa menggunakan alat tradisional semisal bambu runcing. Sedangkan untuk Kiai memadukan pola keulamaan dan gerakan taushiyahdengan pesan melaksanakan jihad atas pemberontakan bangsa kafir. Begitu pula KH. R. Asnawi, dalam memberebutkan kemerdekaan beliau berperan sebagao layaknya seorang Kyai yang membekali para santri untuk memerdekakan bangsa ini.
Hal itu nampak dengan beberapa bait syi’ir yang dikarangnya yang menunjukkan kebahagiannya setelah Indonesia merdeka. Misalnya puisi berbahasa arab yang dilagukan pada saat menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia. Waktu itu di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta, Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia membacakan teks proklamasi. Pada waktu malam sabtunya, KH. R. Asnawi bersama dengan santrinya melagukan proklamasi kemerdekaan “gaya pesantren”. Karena KH. R. Asnawi adalah seorang penggemar syai’ir, proklamasi di pesantren juga memakai bait sya’ir. Seperti dikemukakan oleh KH. Ni’am Zuhri, sampai sekarang yang masih diingat hanya dua bait ber-bahar kamil majzu’:
لحرة في اندونسيــا # بدت لـدى انـسا نيا
واهلــها منفرحو # ن فرحــا ابــديا
Bait lain yang memberikan isyarat kebahagiaan beliau adalah saat kunjungan Presiden RI pertama Ir. Soekarno ke kota Kudus. Pada waktu itu Kh. R. Asnawi turut memberikan sambutan pada waktu Kudus dipimpin oleh Bupati Raden Subarkah (1945-1946). Bait yang dikarangnya antara lain:
رئيسنا في اندونيسيا # لان قــد اتنيــا
ار سوكارنا رتبـة # اعلى با ندونيسيا رايا
ار سوكارنا راءسنا # راءس على ا ندونسيا
فكيف لا كابوفاتين # فيه سوباركا ه عليـا
ار سوكارنا(Ir. Soekarno) درهتا(Dr. Hatta)
هما سببا حرية اندونسيا فلاحلنبدا
Dari beberapa sya’ir karangan beliau ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa satu tawaran model nasionalisme religius merupakan tali perjuangan yang beliau laksanakan. Untuk itu dalam Shalawat Asnawiyyah yang dikarangnya juga tercantum do’a untuk keamanan bangsa Indonesia. Sebuah ajaran dengan memegang teguh pesan agama Islam; hubul wathon minal iman.Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Yang patut digarisbawahi cinta kepada negara adalah dengan di abwah kepemimpinan yang ‘adil. Ketika pemimpin yang dzolimseperti Belanda tidak patut dipatuhi.
Sebagai penutup tulisan kecil ini, penulius merasakan betapa besar jasa dan perjuangan KH. R. Asnawi. Selain itu karya besarnya seperti Soal Jawab Mu’taqad Seket, Fasholatan Kyai Asnawi(yang disusun oleh KH. Minan Zuhri), Syiir Nasihat, Du’aul ‘Arusa’in, Sholawat Asnawiyyahdan syi’iran lainnya belum sempat di-cover dalam tulisan ini. Maka dibutuhkan waktu panjang untuk mengenal karya besarnya. Untuk itu kelengkapan informasi tulisan pendek ini perlu disambung oleh semua kalangan yang mengenal Kiai Asnawi (langsung maupun tak langsung).
Penulis yakin karena tidak pernah bersinggungan langsung dengan beliau tulisan ini hadir dari beberapa ma’khodz. Dan sekali lagi sangat penting sekali untuk membuka sejarah para pendahulu kita yang telah dikenang harum namanya oleh masyarakat. Sehingga kelak oleh generasi mendatang cerita-cerita tidak hanya berupa tutur(cerita mulut ke mulut)—dan ini rentan dengan subyektifitas dan manipulasi berita. Maka apa yang telah diungkap oleh KH. Minan Zuhri sebagai satu-satunya catatan biografi selayaknya disambung oleh para santri yang peduli terhadap sejarah tokoh. Semoga ada! Amin! Wallahu a’lam bish showab.

No comments:

Post a Comment

Iklan