Wednesday, December 22, 2010

Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia secara historis merupakan varian bahasa melayu yang kini juga digunakan di wilayah yang luas meliputi Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, bagian selatan Thailand, bagian selatan Filipina, dan beberapa tempat di Afrika Selatan.

Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa persatuan di Indonesia pada 28 Oktober 1928 dalam peristiwa yang disebut Sumpah Pemuda. Sejak saat itu, bahasa melayu yang digunakan di wilayah Indonesia sekarang mulai dinamai Bahasa Indonesia. Namun, secara resmi penyebutan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di Indonesia baru muncul pada 18 Agustus 1945 ketika konstitusi Indonesia diresmikan.

Dari jumlah pemakainya di Indonesia, sebenarnya bahasa melayu bukan bahasa terbesar. Bahasa Jawalah yang merupakan bahasa terbesar dari segi pemakainya pada saat itu. Namun, bahasa melayu dipilih sebagai bahasa Indonesia karena bahasa ini sudah menjadi lingua franca atau bahasa pengantar di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara sejak ribuan tahun lalu. Salah satu buktinya adalah catatan inskripsi di Sojomerto, Jawa Tengah yang menggunakan bahasa Melayu kuna. Inskripsi ini tidak bertahun, tetapi menurut estimasi ahli dibuat pada pertengahan abad 7. Ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu pun sudah dikenal di Pulau Jawa sejak ribuan tahun lalu.

^ atas
Bahasa Indonesia
Bunyi
Dari segi bunyi, pada umumnya bahasa Indonesia tidak terlalu sulit bagi penutur bahasa lain, terutama bahasa Jepang. Ada banyak bunyi yang mirip di antara bahasa Jepang dan Indonesia. Vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas enam bunyi, yakni /a/, /i/, /u/, /e/, //, dan /o/. Sementara itu, konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas /b/, /c/, /d/, /f/, /g/, /h/, /j/, /k/, /kh/, /l/, /m/, /n/, /ng/, /p/, /q/, /r/, /s/, /sy/, /t/, /v/, /w/, dan /z/ (Untuk mendengar contoh bunyi bahasa Indonesia, silakan klik di sini: bunyi bahasa Indonesia).

Kata
Urutan kata dalam bahasa Indonesia berbeda dengan urutan kata dalam bahasa Inggris atau bahasa Jepang. Contohnya, V‚µ‚¢ŽÔ atau new car dalam bahasa Indonesia adalah mobil baru. “ìŒûatau south gate dalam bahasa Indonesia adalah pintu selatan.

Dalam bahasa Indonesia, ada unsur penting yang berhubungan dengan kata, yakni afiks. Banyak kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas afiks dan dasar. Contohnya, kata bersepeda, menaiki, pemuda, dan kesempatan adalah kombinasi antara afiks ber, me-/-i, pe-, dan ke-/-an, dan dasar sepeda, naik, muda, dan sempat. Untuk menggunakan kamus bahasa Indonesia, dasar inilah yang kita gunakan sebagai sumber.

Kalimat
Struktur kalimat dalam bahasa Indonesia mirip dengan bahasa Inggris, yakni S-V-O, dan berbeda dengan bahasa Jepang yang berstruktur S-O-V. Lihat contoh di bawah ini

We eat banana
S V O
Kami makan pisang
S V O
Ž„‚½‚¿‚Í ƒoƒiƒi‚ð H‚ׂ܂·
S O V

Dalam konstruksi partikel pun, bahasa Indonesia mirip dengan bahasa Inggris, tetapi berbeda dengan bahasa Jepang. Lihat contoh di bawah ini.

from Tokyo
part. N
dari Tokyo
part. N
“Œ‹ž ‚©‚ç
N part.
Aspek Sosiologi
Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama daerah perkotaan. Hampir 87% penduduk Indonesia dapat mengerti bahasa Indonesia. Sementara itu, lebih dari 65% penduduk Indonesia dapat menggunakan bahasa Indonesia. Pada umumnya, bahasa ibu orang Indonesia adalah bukan bahasa Indonesia (sering disebut bahasa daerah) dan baru mengenal bahasa Indonesia ketika masuk usia sekolah karena bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Namun, saat ini anak-anak Indonesia sudah mulai mengenal bahasa Indonesia sejak masih kecil karena adanya siaran televisi atau radio dalam bahasa Indonesia.

Jumlah penduduk Indonesia yang hanya bisa menggunakan bahasa Indonesia meningkat karena adanya perkawinan antarsuku. Selain itu, karena faktor ekonomi, di kota-kota besar di Indonesia bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya jumlah bahasa lain yang bukan bahasa Indonesia cukup banyak. Jumlahnya adalah 706 bahasa. Dari jumlah tersebut, bahasa yang besar dari sudut jumlah pemakai adalah bahasa Jawa, Sunda, Madura, Bali, Minangkabau, dan Batak.


Jika menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu lainnya, jumlah penutur bahasa Melayu saat ini adalah sekitar 260 juta orang. Jumlah itu diperoleh dari 234 juta penduduk Indonesia, 20 juta penduduk Malaysia dan beberapa ribu orang melayu di Brunei, Singapura, Thailand, Filipina, dan Afrika Selatan.

Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia ialah bahasa rasmi Republik Indonesia. Pada saat ini, Bahasa Indonesia dipergunakan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa rasmi, dan bahasa pertama yang digunakan, selain bahasa daerah seperti bahasa jawa atau bahasa sunda. Di Republik Indonesia, hanya rakyat Indonesia yang tidak pernah sekolah di sekolah dasar / elementary school yang biasanya tidak boleh berbahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia dirasmikan pada tahun 1945 sewaktu Indonesia mencapai kemerdekaan daripada pihak Belanda. Bahasa Indonesia adalah bahasa dinamik yang terus menyerap kata-kata daripada bahasa-bahasa asing. Berasal daripada rumpun yang sama, Bahasa Indonesia adalah sebuah loghat bahasa Melayu yang terpiawai, dan kedua-duanya cukup sama. Fonologi dan tatabahasa bahasa Indonesia cukuplah mudah, dan dasar-dasar penting untuk komunikasi asas dapat dipelajari hanya dalam tempoh masa beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar untuk pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia.

Sejarah
Bahasa Indonesia dikembangkan daripada salah satu loghat bahasa Melayu yang telah digunakan sebagai lingua franca untuk kepulauan Indonesia selama berabad-abad. Bahasa Melayu ialah bahasa Austronesia atau Melayu-Polinesia.

Bahasa perdagangan
Penyebutan pertama istilah “Bahasa Melayu” terjadi pada tempoh 683-686. Sebutan ini dapat dilihat di Muzium Jakarta pada terjemahan inskripsi yang ditemukan di Palembang dan Bangka.

Inskripsi ini ditulis dengan huruf Sanskrit atas perintah Raja Sriwijaya. Kerajaan kelautannya berkembang luas. Pada masa itu, daerah perdagangan Selat Melaka, yang merupakan pintu antara China dan India, sudah terbentuk sebuah bahasa yang serupa dengan Bahasa Melayu.

Kebanyakan perbendaharaan bahasa Melayu ini berhubungan dengan perdagangan dan tatabahasanya serupa dengan “Melayu Pasar”. Dari sinilah kemudian Bahasa Melayu dipiawaikan.

Melayu Klasik
Dari era Melayu Kuno, muncullah era Melayu Klasik. Dokumentasi yang ada tidak dapat menjelaskan dengan perinci hubungan antara kedua-duanya. Namun yang pasti, bahasa Melayu kuno berasal daripada kebudayaan Buddha serta Melayu klasik, dan akhirnya menjadi bahasa yang digunakan dalam kebudayaan Islam.

Seiring dengan perkembangan agama Islam yang dimulakan dari Aceh pada abad ke-14, bahasa Melayu klasik lebih berkembang dan mendominasi sehingga tahap kenyataan “Masuk Melayu” bererti “masuk agama Islam”.

Bahasa Indonesia
Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca. Pada waktu itu, belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibunda. Biasanya, bahasa daerah masih digunakan (yang jumlahnya biasa sampai sebanyak 360).

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda, iaitu pada 28 Oktober 1928. Pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, penggunaan Bahasa Indonesia telah dicadangkan sebagai bahasa untuk negara Indonesia selepas kemerdekaan. Soekarno tidak memilih Bahasa Jawa, iaitu bahasanya sendiri yang sebenarnya juga merupakan bahasa majoriti pada saat itu. Beliau memilih Bahasa Indonesia yang didasarkan daripada Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.

Bahasa Melayu Riau dijadikan sebagai bahasa persatuan Republik Indonesia dengan beberapa pertimbangan:

Apabila Bahasa Jawa digunakan, suku suku/puak puak lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh Jawa, yang merupakan puak majoriti Republik Indonesia.
Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan bahasa melayu. Ada bahasa halus, biasa, dan kasar, yang mana dipergunakan untuk orang yang berbeza dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila kurang memahami budaya Jawa, boleh menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.
Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan misalnya Bahasa Melayu Pontianak, atau Banjarmasin, atau Samarinda, ataupun Kutai, dengan pertimbangan pertama suku / puak Melayu berasal dari Riau, Sultan Melaka yang terakhirpun lari ke Riau setelah Melaka direbut Portugis. Kedua, sebagai lingua franca, Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa Cina Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.
Pengguna bahasa melayu bukan hanya terbatas di Republik Indonesia. Di tahun 1945, pengguna bahasa melayu selain Republik Indonesia masih dijajah Inggeris. Malaysia, Brunei, dan Singapura masih dijajah Inggeris. Pada saat itu, dengan menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan, diharapkan di negara negara kawasan seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa ditumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara negara tetangga di Asia Tenggara.

Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian dipiawaikan lagi dengan tatabahasa, dan kamus piawai juga diciptakan. Hal ini dilakukan pada zaman Penjajahan Jepun.

Penyempurnaan ejaan
Pada awalnya, Bahasa Indonesia ditulis dengan tulisan Latin-Romawi mengikuti ejaan Belanda. Selepas tahun 1972, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dicadangkan. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, iaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia semakin distandardkan.

Perubahan:

Sebelum 1972

Sejak 1972

Indonesia

Malaysia

tj

ch

c

dj

j

j

ch

kh

kh

nj

ny

ny

sj

sh

sy

j

y

y

oe*

u

u

Catatan: Pada tahun 1947, “oe” sudah digantikan dengan “u”.
Pengaruh terhadap perbendaharaan kata
Terdapat empat tempoh yang penting terhadap hubungan kebudayaan Indonesia dengan dunia luar yang meninggalkan jejak pada perbendaharaan kata Bahasa Indonesia.

Hindu (abad ke-6 hingga abad ke-15)
Sejumlah besar kata berasal daripada bahasa Sanskerta Indo-Eropah. Contoh: pura, kepala, mantra, cinta, kaca.

Islam (sejak abad ke-13)
Dalam tempoh ini diambillah sejumlah besar kata-kata daripada bahasa Arab dan bahasa Parsi. Contoh: masjid, kalbu, kitab, kursi, doa, khusus, maaf, selamat.

Kolonial
Pada tempoh ini, terdapat beberapa bahasa yang diambil, di antaranya:

bahasa Portugis: gereja, sepatu, sabun, meja, jendela
bahasa Belanda: asbak, kantor, polisi, kualitas.

Selepas penjajahan dan sejak kemerdekaan, banyak kata yang diambil berasal dari bahasa Inggeris. Contoh: konsumen, isyu]]. Dan lalu ada juga Neo-Sanskerta, iaitu neologisme yang didasarkan pada bahasa Sanskerta. Contoh: dasawarsa, lokakarya, tunasusila.

Selain daripada itu, bahasa Indonesia] juga meminjam perbendaharaan katanya dari bahasa Cina. Contoh: pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke).

Ciri-ciri lain daripada Bahasa Indonesia sezaman adalah kesukaannya menggunakan akronim dan singkatan.

Pengelasan
Indonesia termasuk orang-orang daripada subkumpulan Melayu-Polinesia Timur yang bertutur dalam Bahasa Melayu-Polinesia Timur, iaitu suatu cabang bahasa Austronesia. Menurut tapak Ethnologue, bahasa Indonesia diasaskan daripada bahasa Melayu loghat Riau yang ditutur di timur laut Sumatera.

Taburan geografi
Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di kawasan bandar seperti ibu negara Jakarta yang menggunakan Bahasa Indonesia serta loghat Jakarta.

Penggunaan bahasa di daerah biasanya lebih formal, dan sering kali terselip loghat-loghat di daerah bahasa Indonesia itu dituturkan. Untuk berkomunikasi dengan orang sedaerah, bahasa daerah kekadang digunakan sebagai ganti untuk bahasa Indonesia.

Taraf rasmi
Bahasa Indonesia ialah bahasa rasmi Republik Indonesia.

] Bunyi
Bahasa Indonesia mempunyai enam vokal: a, e, i, o, u, dan e pepet (“eē”), dan tiga diftong (ai, au, oi). Konsonannya terdiri daripada p, b, t, d, k, g, v, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, dan y. Disamping itu, terdapat juga konsonan lain yang hanya muncul dalam kata pinjaman, iaitu: f, v, sy, z, dan kh.

Pengejaan bahasa Indonesia hampir sama dengan bahasa Itali. Sebagai contoh, “t” dibunyikan lebih maju daripada bahasa Inggeris (bunyinya kira-kira antara huruf “t” dan “th”). Vokalnya juga hampir sama.

Tatabahasa
Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropah, bahasa Indonesia tidak banyak menggunakan kata yang membezakan jantina. Sebagai contoh, kata ganti seperti “dia” tidak khusus menunjukkan apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal yang sama juga ditemukan pada kata seperti “adik” dan “pacar” sebagai contohnya. Untuk menentukan jantina, sepatah kata sifat harus ditambahkan, umpamanya “adik laki-laki”.

Ada juga kata yang membezakan jantina, umpamanya “putri” dan “putra”. Kata-kata seperti ini biasanya dipinjam daripada bahasa lain (pada kes di atas, kedua-dua kata itu dipinjam daripada bahasa Sanskerta melalui loghat Jawa kuno.

Kata gandaan digunakan untuk mengubah sepatah kata nama menjadi bentuk jamak, tetapi hanya jika jumlah benda itu tidak nyata daripada konteksnya. Sebagai contoh, “seribu orang” digunakan, dan bukannya “seribu orang-orang”. Kata gandaan juga mempunyai banyak kegunaan yang lain, tidak terbatas pada kata nama.

Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, iaitu “kami” dan “kita”. “Kami” adalah kata ganti eksklusif yang bererti tidak termasuk orang yang dilawan bercakap, sedangkan “kita” adalah kata ganti perangkum yang bererti orang yang bercakap serta sekalian yang hadir, iaitu termasuk orang yang dilawan bercakap.

Susunan kata dasar adalah Subjek – Predikat – Objek (SPO), walaupun susunan kata yang lain juga mungkin. Berbeza dengan bahasa Inggeris, kata kerja tidak dipengaruh oleh bilangan subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak menggunakan kala. Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan seperti “kemarin” atau “besok”, atau penunjuk lain seperti “sudah” atau “belum”.

Dengan tatabahasa yang cukup sederhana, bahasa Indonesia mempunyai kerumitannya sendiri, iaitu pada penggunaan imbuhan yang mungkin akan cukup membingungkan bagi orang yang pertama kali belajar bahasa Indonesia.

Sejarah Bahasa Melayu
Asal usul orang-orang Melayu amat kabur kerana sejarah kuno Asia Tenggara masih belum diselidiki dengan mendalam. [2] Bagaimanapun, istilah “Melayu” adalah sangat baru dan timbul buat pertama kali dalam tulisan Cina antara tahun 644 dan 645 Masihi. Tulisan itu menyebut orang Mo-lo-yeu, tetapi letaknya kerajaan Mo-lo-yeu ini tidak dapat dipastikan: ada yang mengatakan di Semenanjung Tanah Melayu dan ada yang mengatakan di Jambi, Sumatera. Bukti konkrit yang pertama tentang bentuk dan sifat bahasa Melayu hanya terdapat sejak tahun 683, dengan terjumpanya empat buah batu bersurat:

Ada yang berpendapat bahasa Melayu berasal daripada Asia Tengah, ada juga yang berpendapat bahasa Melayu sudah lama wujud di Kepulauan Melayu.

Bahasa Melayu berasal dari Asia Tengah
Untuk rencana lanjutan, lihat Bahasa Melayu berasal dari Asia Tengah

Menurut beberapa teori, penutur-penutur bahasa Melayu berasal daripada golongan Austronesia yang datang sejak 2500 SM dari daerah Yunnan dalam beberapa bentuk gelombang pergerakan manusia dan menduduki wilayah Asia Tenggara. [2] Golongan pertama ini dipanggil Melayu Proto. Kemudian, pada kira-kira tahun 1500 SM, datangnya golongan kedua pula yang menduduki daerah pantai dan tanah lembah di Asia Tenggara yang dipanggil Melayu Deutro. [2]

Bahasa Austronesia tergolong dalam keluarga bahasa Austris. Rumpun bahasa Austronesia terbahagi kepada empat cabang, iaitu:

Bahasa Melayu tergolong dalam cabang Nusantara yang mempunyai paling banyak bahasa, iaitu kira-kira 200-300 bahasa. Oleh itu, bahasa-bahasa Nusantara dibahagikan lagi kepada 16 golongan tertentu, antaranya:

Menurut ahli-ahli bahasa dan sejarah ini, Melayu Moden berasal daripada bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Klasik berasal daripada bahasa Melayu Induk. Bahasa Melayu Induk berasal daripada bahasa Melayu Purba yang juga merupakan asal daripada bahasa Melayu Kuno. Ini bermakna bahasa Melayu Moden bukanlah merupakan pengembangan daripada dialek Johor-Riau dan bahasa Melayu Moden tidak begitu rapat hubungannya dengan dialek yang lain. Dialek yang lain berasal daripada Melayu Induk manakala dialek Johor-Riau berasal daripada Melayu Klasik.

[sunting] Bahasa Melayu berasal dari Kepulauan Melayu
Untuk rencana asal, lihat Bahasa Melayu berasal dari Kepulauan Melayu

Penemuan orang Jawa yang berusia ribuan tahun menunjukkan Kepulauan Melayu sudah dihuni manusia, dan bukannya berasal dari Asia Tengah seperti pendapat sesetengah ahli sejarah.

Perkembangan Bahasa Melayu
Kedatangan agama Hindu, Islam dan penjajah Eropah ke Asia Tenggara telah menyebabkan perbezaan yang ketara berlaku antara bahasa Melayu Kuno, bahasa Melayu Klasik dan Bahasa Melayu Moden. Ini menyebabkan penutur bahasa Melayu Moden tidak mungkin dapat memahami bahasa Melayu dari zaman-zaman sebelumnya. Ahli bahasa membahagikan perkembangan bahasa Melayu kepada tiga tahap utama dan setiap tahap bahasa mempunyai sifatnya yang tersendiri misalnya bahasa Melayu kuno mempunyai pengaruh Sanskrit dan Hindu yang kuat, dan bahasa Melayu klasik terpengaruh dengan bahasa Arab dan Islam. Manakala bahasa Melayu moden lebih banyak dipengaruhi oleh penjajah Barat terutama sekali Inggeris.

Perubahan Aksara Penulisan Bahasa Melayu Sehingga Kini
Penulisan bahasa Melayu telah mengalami beberapa perubahan dan menggunakan beberapa jenis huruf yang saling berganti.Tulisan yang mula dipakai adalah tulisan Pallava yang berasal dari India. Tulisan Pallava ini kemudian mengalami perubahan. Oleh itu, timbul jenis-jenis tulisan seperti berikut:

Pengaruh daripada bahasa asing
Bahasa Melayu banyak menyerap bahasa-bahasa asing seperti Sanskrit, Inggeris, Belanda, Jawa, Arab dan sebagainya.

Pengaruh Bahasa Sanskrit
Bahasa Sanskrit telah banyak mempengaruhi bahasa Melayu apabila bahasa Melayu berada di peringkat kuno, iaitu pada peringkat sebelum bahasa Melayu mencapai zaman klasik pada zaman Kesultanan Melayu Melaka yang Bahasa Melayu telah mengalami zaman kuno antara abad ke-7 dan abad ke-13. Bukti pengaruh bahasa Sanskrit ke dalam bahasa kuno dapat dikesan di dalam batu bersurat yang ditinggalkan oleh kerajaan Srivijaya. Mengenai bukti bahasa Melayu kuno, terdapat empat batu bersurat yang penting, iaitu yang dijumpai di:

Selain itu sebagai faktor sampingan, faktor kemegahan juga faktor yang mendorong kepada peminjaman bahasa dari bahasa Sanskrit. Ini adalah kerana bahasa Sanskrit merupakan bahasa yang dianggap bahasa yang “tinggi-tinggi” pada zaman kuno. Penyerapan bahasa Sanskrit dalam bahasa seharian dijadikan satu cara perolehan kemegahan. Keadaan ini khususnya menyebabkan peminjaman perkataan yang sudah ada dalam bahasa Melayu asli, tetapi digantikan juga dengan bahasa Sanskrit, kerana barangkali dianggap lebih sesuai, lebih sedap bunyinya ataupun semata-mata kerana disangka lebih “tinggi” mutunya kerana bahasa Sanskrit merupakan bahasa sarjana.

Dalam bahasa Melayu,terdapat 677 perkataan yang berasal daripada bahasa Sanskrit. Berikut disenaraikan beberapa contoh perkataan Sanskrit yang dipinjam ke dalam bahasa Melayu:

Bahasa Sanskrit

Bahasa Melayu

dosa

dosa

dukkha

duka

deva

dewa

rupa

rupa

samsara

sengsara

Pengaruh Bahasa Jawa
Bahasa Jawa dan bahasa Melayu merupakan bahasa serumpun. Kedua-kedua bahasa tergolong kepada keluarga bahasa Indonesia. Terdapat dua faktor utama dalam penyebaran pengaruh bahasa Jawa ke Bahasa Melayu, iaitu:

Cerita panji ialah sejenis cerita yang berasal dari Jawa. Isinya adalah mengenai wira dan wirawati. Cerita ini terdapat banyak versi, dan boleh dikesan di seluruh nusantara sehingga di Kemboja.

Migrasi orang Jawa ke Tanah Melayu telah berlaku semenjak zaman Kesultanan Melayu Melaka. Pertempatan orang Jawa sudah dapat dikesan di bandar Melaka pada zaman itu, iaitu Kampung Jawa dan Parit Jawa. Walaubagaimanapun, migrasi orang Jawa ke Tanah Melayu yang ketara berlaku bermula pada awal abad ke-19. Tumpuan migrasi Jawa adalah di negeri-negeri Selat dan juga negeri Selangor dan negeri Johor.

Pertembungan orang tempatan yang menutur bahasa Melayu dengan pendatang Jawa yang menutur dalam bahasa Jawa telah menyebabkan unsur-unsur bahasa Jawa meresap ke dalam Bahasa Melayu.

Berikut disenaraikan beberapa kata-kata pinjaman Jawa dalam bahasa Melayu:

Perkataan

Maksudnya

Andong

Kereta kuda(sewaan)

Batok

tempurung

berangasan

mudah naik marah

wedana

ketua daerah

adipati

raja

Pengaruh Arab
Berikut disenaraikan beberapa contoh perkataan Arab yang dipinjam ke dalam bahasa Melayu:

Bahasa Arab

Bahasa Melayu

Abun

Abah

Kursiyyun

Kerusi

Shukran

Syukur

Jadwal

Jadual

Shakhsiyyah

Sahsiah

Pengaruh Bahasa Cina
Dalam Kamus Dewan, terdapat kata-kata yang mempunyai etimologi berlabel C, ini merupakan kata-kata yang dipinjam daripada Bahasa Cina. Tapi bukan semua kata-kata yang berlabel C dalam Kamus Dewan Bahasa merupakan kata-kata yang dipinjam daripada Bahasa Cina. Dalam kajian kong 1993, telah menyimpulkan bahawa lebih kurang 261 kata patah perkataan Bahasa Melayu telah dipinjam daripada Bahasa Cina.

Kajian ini juga dilakukan oleh Mashudi dan Yeong pada tahun 1989. Hasil kajian mereka mendapati terdapat lebih kurang 341 patah perkataan Bahasa Melayu dipinjam daripada Bahasa Cina. Kajian melihat pada fonologi perkataan Bahasa Melayu tersebut. Sistem fonologi kata asli Bahasa Melayu tidak bertepatan dengan sistem fonologi kata Bahasa Cina.

Prilaku fonologi pinjaman kata Bahasa Cina adalah bertentangan sistem fonologi bahasa Melayu.

Pengaruh Portugis
Beberapa contoh perkataan Portugis yang diserap dalam bahasa Melayu adalah:

Bahasa Portugis

Bahasa Melayu

Armario

Almari

Garfo

Garpu

Igreja

Gereja

Limao

Limau

Toalha

Tuala

Janela

Jendela

Pengaruh Inggeris
Pengaruh bahasa Inggeris dalam bahasa Melayu merupakan pengaruh paling ketara dan paling meluas masa kini (satu masaalah yang turut dialami oleh bahasa-bahasa lainnya), dan lazimnya perkataan Inggeris dipinjam ke dalam bahasa Melayu apabila tiada perkataan tempatan untuk mengambarkan situasi baru yang memanggil satu panggilan khusus merujuk kepadanya. Contoh perkataan sebegini adalah konotasi (connoctation), kompromi (compromise) dan siri (series). Tetapi kebingungan dan bantahan sering timbul apabila perkataan Inggeris yang diterima masuk ke dalam bahasa Melayu terlalu banyak sehinggakan ada yang bertindak sebagai pengganti perkataan yang telah wujud. Dewan Bahasa dan Pustaka telah terus membenarkan kemasukan perkataan sebegini dalam kosa kata bahasa Melayu dan tidak menghiraukan bantahan yang dikemukakan. Penggunaan perkataan sebegini yang meluas di media pencetakan dalam bahasa Melayu di Malaysia seperti pada akhbar Utusan Malaysia telah mengeruhkan lagi permasalahan ini. Satu satunya kenyataan bimbang terhadap situasi ini pernah dilafazkan bekas perdana menteri Malaysia, Mahathir bin Mohammad meskipun beliau sendiri telah memperkenalkan suatu perkataan baru “bajet” menggantikan perkataan “belanjawan” semasa perbentangan belanjawannya yang terakhir, dengan alasan bahawa istilah belanjawan tidak tepat kerana anggaran kewangan kerajaan turut melibatkan hasil, dan bukan belanja semata-mata.

Berikut merupakan beberapa perkataan yang telah diterima dalam bahasa Melayu secara rasmi tetapi secara amnya tidak digunakan.

Bahasa Inggeris

Bahasa Melayu

Time

Tem

Game

Gem

Torchlight

Torclait

Family

Famili

Tank

Teng

Information

Informasi

Berikut merupakan beberapa perkataan yang telah diterima dalam bahasa Melayu secara rasmi dan digunakan secara meluas dan dianggap telah diterima.

Bahasa Inggeris

Bahasa Melayu

Book

Buku

Lamp

Lampu

Ball

Bola

Mind

Minda

Tank

Tangki

School

Sekolah (“Schoolah”)

Beberapa tahun kebelakangan ini (sekitar 2003) stesen televisyen milik kerajaan Malaysia RTM 1 (dahulu dikenali sebagai TV 1) telah menukar tema salurannya kepada “Saluran Infotainmen Anda” (daripada bahasa Inggeris Your Infotainment Channel) dan ini menimbulkan kontroversi apabila Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) mendakwa perkataan “Infortainmen” merosakkan penggunaan bahasa Melayu. Alasan yang diberikan adalah bahawa -tain- yang harus disebut seakan perkataan Melayu main, dan ini kedengaran agak janggal. Penukaran ejaan ke “Infotenmen” pula tidak diterima sebagai piawai DPB dan kerajaan disaran menggantikannya dengan perkataan lain seperti “Infohibur” tetapi Kementerian Penerangan yang mengendalikan stesen televisyen kerajaan Radio Televisyen Malaysia enggan menuruti saranan berkenaan. Pada tahun 2006 tema ini ditukarkan ke Saluran Inforia.

No comments:

Post a Comment

Iklan